Selama sidak tak ada raut wajah sumringah dari keduanya saat melihat-lihat gedung. Sambil memegang-megang tembok yang juga ada yang terbuat dari triplek, lalu melihat kondisi pintu, keduanya tampak begitu kecewa.
1. Proses pembangunan yang lambat
Gedung DPRD baru dibangun sejak 2011. Selama tiga tahun, proses perencanaan hingga tahap pembangunan fisik cukup lambat. Bahkan molor dari yang ditargetkan awal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Progresnya lambat, dari kita sidak terakhir Desember lalu, ingin ini ingin itu, tapi tidak ada kemajuan," ujar Erwan di lokasi.
2. Ruangan Paripurna yang mengecewakan
Layaknya sebuah ruangan istimewa, seharusnya ruang paripurna Gedung DPRD Kota Bandung juga istimewa dengan dekorasi dan interior yang mumpuni.
Namun ruangan paripurna di Gedung DPRD baru ini dinilai jauh dari kata istimewa.
"Ruangan paripurna ini penataan meja awal antara meja pimpinan dengan anggota, jaraknya hanya satu meter. Kalau ada acara pelantikan bagaimana, tidak ada tempat," kata Erwan.
Sementara Emil, sapaan akrab Ridwan, mengaku kecewa dengan pemakaian trip blok untuk kursi undangan.
"Panggung pripurna masa pakai tripblok, harusnya tembok yang kokoh," kata dia.
3. Basemen yang tidak layak
Kondisi basemen di Gedung DPRD baru tersebut juga dipertanyakan. Erwan menilai basemen yang dibuat tidak sesuai dengan syarat basemen.
"Saya memang bukan orang teknik, tapi saya mengerti kalau basemen tidak memenuhi syarat. Seharusnya waktu perencanaan dites dulu. Kalau tidak layak, tidak perlu ada basemen," tegas Erwan.
4. Etos kerja kontraktor yang buruk
Selaku arsitek, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengaku Gedung DPRD Kota Bandung baru tersebut kurang baik. Ia juga menilai etos kerja kontraktor yang tidak baik.
"Terus terang saya tidak happy. Etos kerjanya tidak seperti ekspektasi, tidak rapi. Ini berarti kesalahan multidimensi, dari perencanaaan tidak optimal, evaluasi dan pengawasannya kurang baik," kata dia.
(avi/try)










































