Wajah, tangan, dan kaki mereka dicat silver. Bahkan kelopak mata dan rambut pun tak luput dari pulasan cat. Mereka berlari ke sana-kemari, menyeberang jalan tanpa takut menghadapi kendaraan yang hilir mudik dengan kecepatan cukup tinggi, tanpa alas kaki. Sesekali saat haus, mereka jajan ke kios setempat untuk membeli minuman atau es.
Ketiganya menghampiri ketika dipanggil seseorang dari seberang jalan. Mereka tahu, ada uang rupiah yang akan mereka dapat. Sambil makan es yang dibungkus plastik bening, mereka pun sejenak beristirahat di depan toko oleh-oleh di kawasan Cihampelas.
"Udah dari tadi, sekarang mau pulang dulu, mau sekolah," ujar Epa yang bersekolah tak jauh dari kawasan Cihampelas.
Epa bercerita, biasanya ia melakoni menjadi manusia silver sebelum sekolah dan kembali lagi setelah pulang sekolah. Biasanya, mereka beraksi hingga pukul 21.00 WIB.
"Kan sekarang sekolahnya siang, jadi mau pulang dulu, terus mandi. Pulang sekolah ke sini lagi sampai malam," tuturnya dengan raut wajah polos.
Sementara dua temannya, Abu dan Yayan hanya bisa mengangguk-angguk saja ketika diajak bicara. Mereka mungkin tidak mengerti mengapa harus mereka yang berada di jalanan berharap iba dari orang lain.
"Ya buat cari uang aja," kata Abu sambil malu-malu.
Sementara Yayan sulit diajak berkomunikasi karena menderita tuna rungu dan tuna wicara. Kata Epa, Yayan bersekolah di SLB.
"Yang ini mah LB, jadi sekolahnya di SLB," terang Epa.
Mereka lalu berlari menuju arah Cihampelas atas, dengan raut wajah ceria, tanpa beban.
(avi/ern)











































