Tiga seniman tersebut yaitu Arman Jamparing, Wanggi Hoediyanto dan John Heryanto. Ratusan tutup botol minuman bekas disebar, dua seniman digambarkan sebagai dua petani tembakau. Satu petani yang berpakaian perempuan, matanya ditutup kain. Sementara Arman menuliskan dengan cat putih atas tanah 'Bergerak di bawah bayang-bayang kekuatan homogen kapitalisme yang rusuh' dan 'Demi Allah sungguh tidak adil'.
"Aksi ini merupakan bentuk terimakasih kami pada tembakau yang telah banyak menghidupkan jutaan tenaga kerja, berkontribusi terhadap APBD kita, bahkan kesenangan pribadi kita seperti olahraga disponsori oleh rokok," ujar Arman Jamparing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita bukan mau sok-sok'an. Tapi bagaimana nasib buruh, pedagang dan tenaga kerja lainnya yang menggantungkan hidup pada tembakau," katanya.
Menurutnya, kampanye anti rokok hanyalah permainan kapitalis yang menjadi senjata pembunuh massal bagi petani tembakau, dan buruh industri tembakau.
"Berikan solusinya, karena sistem tidak memberikan solusi," katanya.
Soal isu kesehatan, menurutnya itu terlalu sederhana menyalahkan rokok sebagai penyebab kanker dan penyakit lainnya.
"Katanya 70 persen perokok, coba cek kesehatannya. Kanker itu tidak bisa divonis dari tembakau saja, asap knalpot juga berbahaya," tutur Arman.
Tutup botol menjadi simbol petani tembakau yang nantinya akan berantakan. Petani yang ditutup matanya menjadi simbol mereka akan hilang arah. Mereka pun melakukan tabur bunga di sekitar mangkok tembakau.
(tya/ern)











































