Ini Hasil Kajian Unpad Soal PLTSa di Gedebage

Ini Hasil Kajian Unpad Soal PLTSa di Gedebage

Avitia Nurmatari - detikNews
Jumat, 14 Feb 2014 14:39 WIB
Bandung - Rencana pembangunan PLTSa di kawasan Gedebage hingga saat ini masih terkatung-katung. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun belum mengambil keputusan apakah kerjasama dengan pengusaha pemenang tender akan dilanjutkan atau tidak.

Melalui kajian komunikasi, LPPM Unpad melakukan survey langsung kepada masyarakat terkait PLTSa ini. Hasilnya, PLTSa ini memungkinkan namun perlu membenahi komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat

"Proyek ini delapan tahun terkatung-katung. Kita berasumsi ada kekurangefektifan komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat. Banyak masyarakat yang belum tahu soal PLTSa ini. Justru setelah dikasih tau, tidak ada yang " ujar Koordinator Riset Kajian Komunikasi PLTSa LPPM Unpad, Evie Ariadne Shinta Dewi saat ditemui di Amaroosa Hotel, Jalan Aceh Jumat (14/2/2014).

Jenis riset yang telah dilakukan yakni kuantitatif survei dan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam, studi literature dan obserbasi.

"Hasil riset kuantitatif (survei), 57 persen masyarakat tidak tahu sial PLTSa. Ini membuktikan pengetahuan responden mengenai PLTSa masih relative rendah," kata Evie.

Kesimpulan hasil survey secara umum, lanjut Evie, masyarakat ingin proyek PLTSa segera diwujudkan, namun kendalanya masyarakat belum mengetahui mengenai proses PLTSa sendiri.

"PLTSa ini masih visible untuk Bandung. Tinggal masalah komunikasi saja dengan warga. Agar masyarakat tahu pro kontranya seperti apa. Mereka yang menolak karena tidak paham," ย kata Evie.

Berdasarkan pengamatan dan wawancara terhadap informan kunci dengan cara snowball di Kelurahan Rancanumpang, Kecamatan Gedebage, serta berdasarkan hasil wawancara dengan pata informan di wilayah tersebut semuanya mengetahui rencana pembangunan PLTSa tersebut.

"Sikap yang menyatakan setuju 42,85 persen, dan 57,15 tidak setuju," kata Evie.

Alasan kontra yang dikemukakan pun bermacam-macam. Terkait lokasinya di pemukiman serta dampak negatif yang dikhawatirkan akan muncul.

"Beberapa alasan di antaranya karena menilai teknologi incenerator ini berbahaya, tinggi cerobong PLTSa yang dikhawatirkan memberi dampak negatif, serta krisis kepercayaan mulai terhadap manajemen hingga terhadap alat itu sendiri," terang Evie.

(avi/ern)


Berita Terkait