RS Mata Cicendo salah satu rumah sakit berusia tua di Bandung. Lokasinya tak jauh dari rumah dinas Gubernur Jabar atau dikenal Gedung Pakuan. Hanya berjarak sekitar 500 meter dari Stasiun Kereta Api Bandung
Januari 2014 mendatang, usia RS Cicendo menginjak 105 tahun. Kebanggaan tersendiri bagi RS Cicendo yang saat ini bertitel satu-satunya rumah sakit mata rujukan di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya sudah tak terhitung ragam bentuk peralatan medis yang menemani kiprah RS Cicendo sepanjang seratusan tahun. Seiring poros bumi berputar, peralatan medis lebih canggih tercipta. Mau tak mau manajemen mesti membuntuti zaman, perlatan lama pun diganti dengan tampilan modern dan serba digital. Peralatan medis usang itu menumpuk tak terpakai.
Jangan lupakan sejarah, sepertinya diterapkan RS Cicendo. Maka tercetuslah ide memanfaatkan peralatan medis lama itu menjadi saksi histori dengan cara dimuseumkan. "Sejak dua tahun terakhir peralatan medis itu dikemas dengan konsep museum. Saat ini alat-alatnya dipajang di Museum Mata yang berada di lantai satu," jelas Hikmat.
Sebenarnya, sambung Hikmat, alat-alat medis tak terpakai itu pernah 'menginap' di lantai tiga RS Cicendo beberapa tahun lalu. Konsep museum sudah terpikir waktu itu. Namun baru diseriuskan dua tahun terakhir dengan memindahkan peralatan ke lantai satu di ruangan khusus yang diberi nama Museum Mata. Letak museum berada di area lobi.
"Peralatan ini ada milik rumah sakit, ada juga sebagiannya milik pribadi para dokter yang pernah bekerja di RS Cicendo," tutur Hikmat.
Peralatan medis yang tersimpan di Museum Mata antara lain perimetri, trial lens, mesin fakoemulfisikasi, spekulum mata, foto cine centrum, proyektor auto chart, dan lensometer. Umumnya konsep museum, peralatan-peralatan medis di tempat ini terpampang nama alat, tahun pembuatan, dan penjelasan fungsi atau kegunaan alat.
(bbp/ern)











































