Sehari-hari pasukan gorong-gorong bergelut dengan comberan. Jelas, bau dan kotor. Mereka cukup bahagia dan bangga dengan 'gaji' Rp 9 ribu per jam.
Engkab Zakaria (60) dan 9 anggota timnya mulai bekerja pada pukul 08.00 WIB. Biasanya berakhir pada pukul 16.00 WIB. "Itu maksimalnya. Tapi rata-rata satu hari dihitung tujuh jam kerja," kata Engkab kepada detikcom di Jalan AH Nasution Kecamatan Mandalajati, Rabu (20/11/2013).
Engkab mengaku 1 jam, pasukan berbaju ungu ini diupah Rp 9 ribu. "Minggu kemarin lumayan dapat Rp 252 ribu per orang. Itu empat hari kerja," ungkap pria yang masih terlihat kokoh di usia tuanya ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Engkab senang bisa menjadi pasukan gorong-gorong. Pekerjaan yang ia lakoni sekarang, sama dengan apa yang ia kerjakan belasan tahun sebelumnya. "Saya dulu kerja di Pasteur, di PT (perusahaan). Ya kerjanya gini, tapi enggak tiap hari itu juga," tuturnya.
Salah satu anggota tim ungu, Ujang (39) mengaku pekerjaan membersihkan kotoran seperti ini baru ia lakoni sekarang. "Ya dulu serabutan. Nyopet juga pernah. Tapi udah insaf sekarang mah, makanya mau kerja begini juga," tutur Ujang.
Engkab dan Ujang cs bertugas di Kecamatan Mandalajati, mulai dari Jatihandap (depan Terminal Cicaheum) hingga Sukaasih. Jaraknya sekitar 4 kilometer. Mereka dibentuk Wali Kota Ridwan Kamil bersama ratusan orang lainnya yang kemudian ditasbihkan sebagai pasukan gorong-gorong.
Bagi Engkab cs menjadi pasukan gorong-gorong merupakan jalan keluar untuk menafkahi keluarga. Meski harus bergelut dengan kotor dan bau menyengat, mereka cukup bahagia. Pada saat bersamaan di berbagai media massa diberitakan sebagian orang tak mau berkeringat dan tega menyikat uang rakyat miliaran rupiah. (ern/trw)










































