Pada pertengahan tahun 2014 mendatang, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung yang berkedudukan di Bandung alisa Wanadri, akan menjelajahi tebing atau Ilas (bahasa Kalimantan-red) Merah di Samarinda Kalimantan Timur. Ilas yang tergabung dalam Kawasan Karst Sangkulirang Mangkulihat itu, digadang-gadang organisasi PBB Unesco sebagai warisan budaya dunia yang baru.
"Ekspedisi ini akan jadi event kepemudaan dengan mengusung nasionalisme. Kami bertekad jadi pemanjat pertama di Ilas Merah yang memiliki tinggi 425 meter di atas permukaan tanah," jelas Ketua Tim Ekspedisi, Yudi Ardiansyah kepada detikcom, Minggu (10/11/2013).
Menurut Yudi, selain pemandangan alam yang belum tersentuh manusia kota, yang menjadi alasan mereka melakukan ekspedisi di kawasan tersebut karena pernah ditemukan peninggalan manusia zaman pra sejarah beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengungkapkan bahwa dari informasi yang didapatkan dari pemerintah dan mahasiswa pecinta alam setempat, diketahui ada dua tebing lain yakni Tondoyan dan Kulad di kawasan itu. Sebelumnya tim Wanadri sendiri sudah jelajahi Tondoyan dan menghabiskan waktu satu bulan pada 2012. Kini giliran Ilas Merah.
"Awalnya Gunung Leuser di Aceh jadi pilihan, tapi setelah dipertimbangkan perjalanan menuju Ilas Merah sampai kembali ke Bandung lebih singkat. Untuk manjatnya sendiri akan menghabiskan waktu 16 hari, maka total satu bulan dengan perjalanan," pungkasnya.
(avi/avi)










































