Ratusan pedemo menggeruduk Gedung Pakuan atau rumah dinas Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Aksi demonstrasi tersebut diwarnai bentrok dengan aparat kepolisian.
Massa Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) dan LSM Barisan Rakyat Antikorupsi Tatar Sunda (Brantas) mendatangi Gedung Pakuan, Jalan Oto Iskandardinata, Kota Bandung, Kamis (10/10/2013), sekitar pukul 13.00 WIB. Tuntutan mereka ingin bertemu Ahmad Heryawan dan meminta orang nomor di pemerintahan Jabar tersebut bersikap tegas terhadap pejabat pemerintah yang menjadi tersangka korupsi serta komitmen memberantas korupsi.
Awalnya massa mendekat pagar Gedung Pakuan yang dijaga polisi. Pedemo ingin merangsek masuk ke gedung tersebut. Namun beberapa saat kemudian saling dorong terjadi. Kericuhan pun tak terhindirkan. Pedemo dan polisi bentrok disertai baku hantam. Tiba-tiba kayu dan batu melayang dari tengah kerumunan pedemo ke arah polisi serta halaman Gedung Pakuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tuntutan kami agar gubernur memecat oknum pokja dan P2K yang sudah tersangka baik di Polri dan Kejaksaan masih bertugas. Gubernur harus melihat contoh Kadispenda yang jelas KKN dan sekarang ditahan di Lapas Sukamiskin," ucap Ketua Umum GMBI Fauzan Rahman.
Akibat bentrok, jalan di depan Gedung Pakuan sempat ditutup. Arus lalu lintas kembali dibuka sekitar pukul 14.00 WIB, setelah massa memberikan jalan.
"Pa Gubernur lagi berada di Bogor. Nanti akan dijadwalkan ulang untuk pedemo ini yang ingin menyampaikan aspiran dan bertemu gubernur," kata Kasatpol PP Jabar Sigit Ujwalaprana di Gedung Pakuan.
Kabag ops Polrestabes Bandung AKBP Diki Bduiman menyatakan bentrok terjadi karena massa memaksa masuk. "Tiga polisi terluka kena batu, satu orang bagian pipi dan dua lagi bagian kaki, kalau pedemo ada empat orang, mereka sudah diobati semua oleh dokter kita," ujar Diki di lokasi.
Menurut Diki selain batu, di lokasi juga ditemukan kunci inggris dan besi. Akhirnya pada pukul 14.55 WIB, massa pun membubarkan diri.
(bbp/ern)










































