Pemprov Jabar akan membeli 5.000 ribu rompi antipeluru untuk dipakai polisi saat melaksanakan tugas di tengah-tengah masyarakat. Bantuan tersebut akan disalurkan melalui Polda Jabar.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan bantuan kepada polisi berupa rompi antipeluru itu mengunakan dana APBD dari pos bantuan.
"Ini dalam rangka membangun rasa aman di Jabar. Lima ribu rompi antipeluru itu bisa diberikan satu atau dua tahun. Ya semoga bisa selesai satu tahun," kata Heryawan kepada wartawan di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu (18/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun begitu, perlu peran serta seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk menciptakan situasi kondusif. Polisi tidak bisa bekerja sendirian mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat.
"Maka itu kami wajib menggalang kerjasama yang baik untuk mewujudkan rasa aman," ujar Heryawan.
Kapolda Jabar Irjen Pol Suhardi Alius mengapreasis rencana bantuan rompi antipeluru dari Pemprov. "Semoga bisa ditiru juga oleh wali kota dan bupati di tiap wilayah di Jabar," kata Suhardi.
Menurut Suhardi, rompi antipeluru itu nantinya disematkan kepada anggota polisi dengan mempertimbangan beberapa hal. Teknis pendistribusiannya seperti apa, Suhardi belum bisa menyampaikan.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane menyebutkan rompi antipeluru merupakan peralatan standar bagi polisi untuk melindungi diri terutama bagi personel Reserse dan Antiteror. Maraknya aksi penembakan kepada polisi belakangan ini, kata Neta, pemakaian rompi antipeluru merupakan suatu kebutuhan bagi anggota polisi yang bertugas di jalanan atau lapangan.
"Selagi pemerintah daerah di Jabar menyiapkan (rompi antipeluru) itu, kenapa enggak dipakai. Ya boleh saja, sebagai bentuk antisipasi. Tapi yang terpenting saat ini ialah harus ada perubahan sikap dan perilaku polisi yang simpati kepada masyarakat. Sehingga masyarakat simpati kepada polisi," tutur Neta ditemui di Mapolda Jabar.
(bbp/ern)











































