Namun keduanya tak bisa melihat bagaimana istimewanya penampilan pasangannya itu. Kedunya merupakan penyandang tuna netra. Cinta tak mengenal fisik, memang itulah yang mereka alami.
Regan mengisahkan, keduanya pertama kali berkenalan 1,5 tahun. Saat itu Sri bekerja di panti pijat, lalu bertemu dengan Regan yang juga memiliki panti pijat sendiri di kawasan Soreang. Sejak awal keduanya saling mengetahui jika mereka sama-sama tak bisa melihat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu Sri saat itu bingung, bagaimana caranya untuk menikah. Apalagi mereka berdua sama-sama tak bisa melihat. Hingga akhirnya ia mengetahui informasi soal acara nikah massal yang diselenggarakan oleh Mimbar Hiburan dan Amal Bagi Dhuafa.
Namun jalan yang sudah terbuka sempat terganjal karena keluarga Sri kurang memberikan dukungan pada pasangan ini. "Ya mungkin mikirnya gimana gitu kan dua-duanya enggak bisa lihat. Nanti gimana," katanya.
Regan pun telah bulat tekad untuk tetap menikahi perempuan yang tak pernah dilihatnya secara langsung. "Saya mau buktikan, biarpun kami berdua tak bisa melihat, tapi tetap bisa menjalani rumah tangga dengan baik," ujar Rean.
Saat ditanya apa yang membuat Regan yakin untuk menikahi Sri, ia mengaku punya insting. "Saya emang enggak bisa lihat dia, dia juga enggak bisa lihat saya. Pakai insting saja," katanya.
Sama-sama tak bisa melihat justru menurutnya membuat mereka saling mengerti satu sama lain dan saling membantu. Namun jika nanti memiliki anak, Regan ingin anaknya bisa melihat kedua orang tuanya.
"Kalau nanti punya anak, pengennya normal, bisa melihat," harapnya.
Setalah menikah, keduanya akan tinggal di Soreang dan bekerja bersama di panti pijat milik Regan.
(tya/tya)










































