Sekitar 1,5 jam debat yang ditayangkan salah satu stasiun tv lokal di Bandung ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama, setiap kandidat akan mengambil kertas undian yang di dalamnya terdapat delapan permasalahan yang ada di Kota Bandung, meliputi infrastruktur, kesehatan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, transportasi, keamanan, dan lingkungan.
Kandidat diberi waktu selama 1 menit 30 detik untuk menanggapi satu permasalahan sesuai kertas yang telah dipilih. Kemudian tanggapan itu didebat oleh kandidat lain dengan sistem paling cepat membunyikan bel. Waktu tanggapan selama 30 detik. Selanjutnya kandidat pertama kembali menanggapi komentar dari pasangan lain selama 30 detik.
Dalam sesi kedua, panelis memberikan pertanyaan tentang suatu permasalahan di Kota Bandung, kemudian para kandidat diminta untuk menyampaikan visi misinya misinya sesuai pertanyaan tersebut. Waktu yang diberikan yakni 90 menit. Panelis yang memandu debat ini yakni Aiman Wicaksono dan Dosen Unpad, Budi Rajab.
Menurut Budi, dari 8 kandidat ia menilai mayoritas tidak bisa menanggapi isu yang dilontarkan oleh panelis. "Kemampuan menanggapi isu ada yang bisa ada yang enggak. Tapi kebanyakan engak," ujar Budi saat ditemui usai acara.
Selain itu, dari semua tanggapan kandidat mengenai isu yang dilontarkan panelis, terlihat semua menyerang pemerintah kota. Artinya, kata Budi, pemerintah kota selama ini tidak menjalankan amanah mengatur kota dengan baik.
"Sehingga memunculkan upaya pemimpin baru yang lebih mumpuni. Tapi enggak tahu buktinya nanti. Atau hanya janji saja," katanya.
Budi pun meramalkan ajang pilwalkot ini akan berlangsung selama dua putaran. Karena calon yang akan bertarung cukup banyak.
"Saya meramal dua putaran. Ada beberapa calon yang kuat. Sehingga tidak ada yang bisa mencapai 30 persen lebih," jelasnya.
Ia juga menilai hanya dua kandidat saja yang siap dan mampu menjadi pemimpin Bandung 5 tahun ke depan. "Yang siap dua, yang lain coba-coba. Iseng-iseng berhadiah," pungkasnya.
(avi/tya)











































