Hal itu disampaikan Ansyad karena belakangan, para aktivis HAM menyebut bahwa tembak mati para teroris yang dilakukan Densus 88 telah melanggar HAM.
"Dari 900 orang yang ditangkap, kurang dari 10 persen atau tidak sampai 90 orang yang mati. Karena itu, seruan untuk bubarkan (Densus dan BNPT-red) itu berhitung dulu lah," ujar Ansyad dalam acara Sarasehan Kamtibmas dengan tema "Mencegah dan Menanggulangi Radikalisme / Terorisme di Jabar" yang digelar Polda Jabar di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang, Selasa (4/6/2013).
Ia membandingkan dengan terorisme di Amerika Serikat dimana hampir 100 persen teroris ditembak mati.
"Kalau mau dibuat survei menggunakan persen, di Indonesia faktanya nggak ada sampai 10 persen. Sementara di Amerika yang disebut raja HAM, 100 persen ditembak mati semua, tapi kok (aktivis-red) tidak ribut," katanya. Ia kemudian mencontohkan bagaimana dua terduga teroris di Boston ditembak mati.
Dijelaskan Ansyad, ada sejumlah tantangan dalam menghadapi terorisme diantaranya banyaknya eks teroris kembali jadi teroris. Radikalisme meningkat, kekerasan atas nama agama meningkat serta ancaman NKRI sebagai negara demokrasi sangat tinggi.
"Masyarakat kita ini mayoritas moderat, mayoritas tapi kurang aktif. Sementara yang radikal minoritas tapi sangat aktif dan punya link internasional serta punya dana dan konsepsional," jelas Ansyad.
Untuk itu menurutnya pemerintah dan berbagai unsur masyarakat perlu melakukan pencegahan terhadap terorisme.
"Mencegah teroris itu bukan hanya tugas polisi, tapi seluruh pihak," katanya.
(tya/avi)











































