Kicauan pengguna twitter pun beragam menanggapi gerakan 'Save Gasibu'. Seperti diungkapkan @utetsiregar, 'Mendukung banget saya, udah males sama kemacetan akibat kaki lima tiap wiken yg bikin kumuh..rindu gasibu taun2 90an'. Lain lagi kicauan @Mas AngGita yang berisi, 'Kemana ini admin @info_gasibu ngga pernah muncul jangan cuma wacana doang'.
Upaya Pemprov Jabar sosialisasikan 'Save Gasibu' sepertinya belum maksimal memancing respons masyarakat. Pemprov Jabar menanggapi santai kondisi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lapangan Gasibu sejak lama menjadi ikon di Kota Bandung. Lapangan seluas 21 ribu meter persegi ini terletak di depan Gedung Sate. Seiring waktu bergulir, Gasibu mulai terkikis fungsinya. Kesan kumuh dan tak terawat sudah menjadi pembicaraan masyarakat.
Mulai 2013, Gasibu yang semula dikelola Pemkot Bandung beralih kepemilikan menjadi aset Pemprov Jabar. Menurut Rudy, gerakan 'Save Gasibu' sebagai niat Pemprov Jabar mengembalikan fungsi dan menata ulang Lapang Gasibu sebagai ruang publik.
"Tentu saja, perlu peran aktif, dukungan, dan kepedulian masyarakat mengembalikan fungsi Gasibu sebagai ruang publik. Diharapkan gerakan ini muncul aspirasi dari masyarakat berupa kritik dan saran," tuturnya.
Rudy mengatakan, seruan gerakan 'Save Gasibu' tidak hanya memanfaatkan dunia maya saja. Informasi serupa pun disebar via media massa, dan fasilitas reklame.
Lebih lanjut Rudy menuturkan, Pemprov Jabar siap menata fisik Lapangan Gasibu sesuai sedia kala. Selain ruang publik, di lokasi itu tetap sebagai tempat arena lari, upacara, dan hutan kota.
"Masyarakat perlu dilibatkan agar tumbuh rasa memiliki, menjaga, dan merawat lapangan Gasibu" jelas Rudy.
(bbp/ern)










































