"Kita boleh beda pendapat itu tindakan benar karena itu menghabisi preman. Tapi ada yang mengatakan kalau itu boleh dilakukan, semua orang punya hak yang sama untuk melakukan," kata Endriartono.
Jika tindakan main hakim sendiri dilakukan semua orang, ia miris. "Apa jadinya negara ini," cetusnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perjuangan menegakkan hukum adalah hak, tapi tidak harus dengan satu pelanggaran hukum, karena hukum harus ditegakkan," jelas Endriartono.
Selain bicara soal penyerangan LP Cebongan, Endriato juga bicara soal korupsi, kemiskinan, hingga serta permasalahan bangsa lainnya.
Salah satu yang ditekankannya dalam diskusi itu adalah jangan berbangga diri jika bangsa Indonesia punya banyak orang kaya, sementara orang miskin jauh lebih banyak.
"Apa kita perlu bangga sekarang di Indonesia ada 100, 500, 1000 orang masuk dalam ranking orang kaya di dunia, tapi masih melihat banyak pedagang asongan, nelayan, petani buruh, dan lain-lain hidup dengan (penghasilan) di bawah Rp 10 ribu per hari. Rasanya kita tidak patut berbangga," paparnya.
Ia berharap, ketimpangan sosial orang Indonesia diharapkan tidak terus terjadi. Ia pun mengajak semua pihak untuk sama-sama memperbaiki kondisi bangsa.
Sementara dalam diskusi itu, hadir tokoh Sunda Tjetje Padmadinata. Diskusi bertema 'Kepemimpinan Nasional dan Masa Depan Bangsa Indonesia' itu dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai kalangan.
(orb/avi)










































