"Semua anggota punya skil pantomim. Ada yang melatihnya dari mahasiswa STSI Bandung," kata Koordinator Komunitas Manusia Perak, Sulaeman alias Mang Sule (31), saat berbincang santai di halaman pertokoan kawasan Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Selasa (2/4/2013).
Skil itu dipraktikkan saat 'Silverman' berada di traffic light. Sembari memegang kotak kardus bertulis 'Peduli Yatim Piatu', mereka mendekati pengendara, lalu sejenak tubuhnya bergerak kaku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komunitas Manusia Perak terbentuk 25 Januari 2012. Keberadaan mereka bukan abal-abal. Komunitas ini legal lantaran mengantongi akta notaris. Anggota 'Silverman' sengaja dikoordinir agar tidak liar dan diajak berkegiatan positif. Hasil uang yang diraih dari mengemis itu dikumpulkan dan disisihkan 30 persen buat anak yatim piatu.
"Memang kenyataannya kami mengemis. Tapi kami punya motto dalam beraktivitas di jalanan. Yakni berawal dari meminta, lalu memberi. Jadi tak sekadar mengemis, uang yang diperoleh dari warga itu disumbangkan kepada anak-anak yatim piatu," tutur Sule.
(bbp/ern)











































