"Memang kami fokus peduli anak yatim piatu. Tapi kami sering juga membantu warga miskin. Misalnya, uang terkumpul dari anggota manusia perak yang mengemis di jalanan itu rutin disisihkan untuk pajak kuburan bagi orang tidak mampu. Selain itu, kami pernah menolong warga yang terlilit utang," tutur Koordinator Komunitas Manusia Perak, Sulaeman alias Mang Sule (31), saat berbincang di halaman pertokoan kawasan Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Selasa (2/4/2013).
Ada 40 pengemis berdandan 'Silverman' yang tersebar di sejumlah titik perempatan lampu merah di Kota Bandung. Tubuhnya sengaja dibalur cat perak khusus body painting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sule, tidak setiap hari 40 anggotanya turun ke jalan. Hasil mengemis pun tidak tentu jumlahnya. "Kadang sehari itu malah enggak dapat. Tapi kami punya aturan, kalau dapat 100 ribu rupiah sehari dari uang yang terkumpul, 70 persen buat anggota dan 30 persen buat anak yatim piatu. Kami rutin memberikan bantuan kepada 100 anak yatim piatu yang bukan dari yayasan atau lembaga," jelas pria berkacamata ini yang pernah kuliah hingga semester tujuh di STSI Bandung jurusan Teater ini.
"Sabtu dan Minggu paling ramai. Uang yang terkumpul bisa mencapai 700 ribu rupiah. Tetap saja, pembagian persentasenya seperti tadi," tambahnya lagi.
Anggota 'Silverman' yang berasal dari kaum marginal ini mangkal di jalanan demi orang-orang yang patut dibantu. Terik menyengat serta guyuran hujan, tidak menyurutkan semangat kepedulian mereka. Pengemis 'Silverman' tak semata-mata meminta uang kepada pengendara di sejumlah traffic light. Ada pesan positif sarat makna yang ingin disampaikan kepada masyarakat berekonomi mampu.
"Orang-orang memiliki penghasilan, sebisa mungkin menyisihkan uangnya bagi anak yatim piatu. Tanpa kehadiran kami, semestinya hal seperti itu bisa dilakukan masyarakat secara perorangan atau pribadi. Membantu anak yatim piatu itu merupakan tindakan mulia," papar Sule.
(bbp/ern)











































