"Memang kenyataannya kami ini pengemis," jelas Koordinator Komunitas Manusia Perak, Sulaeman (31) alias Mang Sule, saat berbincang di pertokaan kawasan Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Selasa (2/4/2013).
Masyarakat terutama pengendara yang melintas di pusat kota, saban hari disuguhi 'Silverman' yang mangkal di lampu merah. Orang-orang yang sekujur tubuhnya dilumuri cat perak ini mampu mengundang perhatian publik. Mereka berbekal kotak kardus bertulis 'Peduli Yatim Piatu'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengemis itu 'kan meminta. Tapi kami punya motto dalam berkaktivitas di jalanan. Yakni berawal dari meminta, lalu memberi. Jadi tak sekadar mengemis, uang yang diperoleh dari warga itu disumbangkan kepada anak-anak yatim piatu," tutur Sule.
Meneropong jauh ke belakang, awal kemunculan manusia perak di Bandung digagas sejumlah pemuda kreatif yang bermukim di kawasan Pasirluyu pada 2003. Waktu itu manusia perak hanya turun ke jalan atau mangkal di perempatan Jalan Buahbatu- Jalan Pelajar Pejuang 45 saat momen menjelang perayaan 17 Agustus. Misinya cari sumbangan guna memperingati agustusan. Mereka tampil happening art.
"Pernah juga kami ke jalanan untuk menggalang dana peduli bagi korban gempa dan aksi sosial lainnya," ujar Sule.
Rupanya manusia perak sukses melakoni visi misinya. Bukan cuma sekadar meminta rupiah kepada pengendara, perilaku 'Silverman' ini menghibur masyarakat. Ide unik tersebut mengubah manusia perak menjelma menjadi ikon.
Enggan 'Silverman' bergerak liar, Sule dan rekannya di antaranya Dodi (31), membuat sistem guna mengontrol. Terbentuklah Komunitas Manusia Perak pada 25 Januari 2012. Sule pun tidak mau komunitasnya berdiri ilegal. Desember 2012, komunitas ini berbekal akta notaris.
"Anggota komunitas ini berjumlah empat puluh orang. Semuanya pria yang berlatar belakang beragam, seperti pengamen, anak jalanan, preman, dan pengangguran. Anggota tidak ada yang di bawah umur," papar Sule.
Setiap hari, anggota 'Silverman' berkumpul di basecamp yang memanfaatkan bangunan tak terpakai di kawasan Buahbatu. Sebelum beraktivitas, mereka melumuri tubuhnya dengan cat di tempat tersebut. Menjelang malam, para 'Silverman' kembali ke basecamp untuk memberikan uang yang terkumpul. "Uang diperoleh itu wajib disisihkan dan diberikan kepada anak yatim piatu," tutur Sule.
Ada sekitar 100 anak berusia 5 hingga 12 tahun bersatus yatim piatu yang rutin mendapat uang dari Komunitas Manusia Silver. Pemberian berlangsung tiap tanggal 25.
"Anak yatim piatu itu bukan yang berada di yayasan atau lembaga. Mereka datang ke Jalan Buahbatu, atau kami yang memberikan langsung kepada anak yatim piatu," tutup Sule.
Aturannya jika penghasilannya di atas Rp 100 ribu, maka 30 persen wajib disisihkan buat disumbangkan. Jika di bawah nominal tersebut, si manusia perak menyumbang seikhlasnya.
(bbp/ern)











































