Peringati Hari Sindrom Down Dunia, 450 Anak DS akan Jalan Santai

Peringati Hari Sindrom Down Dunia, 450 Anak DS akan Jalan Santai

Oris Riswan Budiana - detikNews
Rabu, 20 Mar 2013 12:53 WIB
Peringati Hari Sindrom Down Dunia, 450 Anak DS akan Jalan Santai
Bandung - Untuk memberi edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang down syndrome (DS), 450 anak berkebutuhan khusus down syndrome akan mengikuti jalan santai di car free day (CFD) Jalan Dago, Minggu (24/3/2013).

Kegiatan itu dilakukan sekaligus sebagai peringatan Hari Sindrom down Dunia yang jatuh pada 21 Maret. "Nanti di lokasi waktu jalan santai, anak-anak ini akan bagi-bagi brosur tentang down syndrome dan gelang ke warga yang ada di sana," kata Ketua Panitia Rina Niawati dalam konferensi persnya, Rabu (20/3/2013).

Dalam kegiatan nanti, akan ada talkshow, hingga konsultasi kesehatan gratis. "Yang bisa konsultasi bukan cuma keluarga dengan anak down syndrome, tapi semua orang boleh konsultasi," ucapnya.

Rina mengatakan, jumlah peserta yang akan ikut dalam jalan santai di luar perkiraan. "Tadinya kita menargetkan 200 anak, tapi sampai sekarang sudah ada hampir 450 orang yang terdaftar," ucapnya.

Di luar itu, jumlah yang ikut dalam jalan santai akan mencapai 1.500 orang. Sebab keluarga down syndrome mulai dari kakak, adik, hingga orangtua akan ikut serta dalam jalan sehat.

Rina berharap yang ikut dalam acara itu jauh lebih banyak. "Siapapun yang peduli boleh ikut serta dalam jalan santai ini," tuturnya.

Down syndrome merupakan kelainan genetik akibat kelebihan kromosom. Ciri-ciri down syndrome adalah wajah cenderung datar tanpa pangkal hidung, rambut tipis, leher tebal, mulut kecil, serta tonus oto lembek dan lemah.

Pendiri Persatuan Orangtua Anak Down Syndrome (POTADS) Teti Ichsan mengatakan down syndrome tidak menular atau menurun. Di Indonesia, ada lebih dari 300 ribu pengidap down syndrome. Sedangkan di dunia sekitar 8 juta.

Lewat sosialisasi, pihaknya ingin menyebar pemaham ke masyarakat untuk menerima keberadaan anak down syndrome. Sebab mereka membutuhkan support dari banyak pihak untuk berkembang. "Beri mereka kesempatan untuk berkembang," ajak Teti.

Di luar itu, lewat sosialisasi ia berharap para orangtua tidak terus terpuruk karena memiliki anak down syndrome. Mereka diharapkan bangkit dan terus membina anaknya agar menjadi lebih baik dan berprestasi.

(orb/ern)


Berita Terkait