Penandatanganan MoU dilakukan di Aula Cornel Singawinata, RS Dustira Cimahi, Jalan Rumah Sakit, Jumat (1/3/2013) yang dilakukan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo dan Dirut PT Sidomuncul Irwan Hidayat.
Sebelum itu, Aldiana Halim SpM, Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perdami Jabar menjelaskan bahwa di dunia ada 39 juta orang yang mengalami kebutaan dan 90 persen di antaranya terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Dari kasus kebutaan yang ada 80 persen diantaranya sebenarnya dapat dicegah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aldiana menuturkan, setiap 1 orang buta maka setidaknya ada 2 yang tidak produktif. Yaitu orang yang buta dan yang mengurusnya. Sehingga masalah katarak menurutnya bukan lagi masalah klinis tapi masalah yang mempengaruhi sos ekonomi. Karena itu kerjasama sinergis pemberantasan katarak ini diharapkan akan mengurangi angka kebutaan.
"Hingga tahun 2012, sedikitnya ada 18 ribu yang telah dioperasi. Harga operasi yang paling murah itu minimal sekitar Rp 3 juta untuk kelas yang paling rendah. Sehingga kalau saya hitung, kita menghemat Rp 48 miliar untuk masyarakat untuk penanganan kebutaan," jelas Aldiana.
Sementara itu KSAD TNI Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan, alasan TNI ikut dalam kegiatan ini, karena TNI harus dekat dengan rakyatnya. Para Bintara Pembina Desa (Babinsa) bisa berperan aktif untuk mencari para penderita katarak untuk bisa ikut serta dalam kegiatan ini.
"Lakukan dengan hati. Babinsa harus tau siapa yang sakit dan harus ditolong," tutur Edhie.
Ia menyebut, TNI AD memiliki 13 rumah sakit yang berada di seluruh wilayah Kodim di seluruh Indonesia. Para Babinsa ini diharapkan bisa menyisir anggota masyarakat yang membutuhkan bantuan.
(tya/ern)










































