13 Tahun, Imam Setia Menjadi Pengibar Sang Saka Merah Putih

13 Tahun, Imam Setia Menjadi Pengibar Sang Saka Merah Putih

Avitia Nurmatari - detikNews
Rabu, 27 Feb 2013 11:20 WIB
13 Tahun, Imam Setia Menjadi Pengibar Sang Saka Merah Putih
Bandung -

Tubuhnya berdiri tegap, tangannya dengan kuat memegang tiang bendera portable yang sudah dipasang bendera merah putih. Saat instrumen lagu Indonesia Raya berkumandang, tangannya dengan sigap mengibas-ngibaskan sang saka merah putih seorang diri.

Itulah Imam Surantoko. Dia bukan seorang Paskibraka. Mengikuti panggilan hati, pria kelahiran cimahi 17 april 1967 ini, sudah 13 tahun memilih pekerjaan sampingan sebagai pengibar bendera.

Kiprahnya itu berawal dari Rumah Nusantara, sebuah ruang aktivitas seni, budaya dan ruang pertunjukan. Komunitas yang berdiri tahun 1998 ini, selalu membiasakan mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap kali memulai pertunjukan. Imam yang merupakan anggota dari komunitas itu, selalu dengan sukarela menjadi pengibar bendera.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bagi saya, ketika sound system bagus, isntrumen lagu Indonesia Raya berkumandang, orang-orang menyanyi Indonesia Raya bersama-sama, sambil bendera dikibarkan itu, rasanya bagus, suka terharu," tutur Imam.

Dari mulut ke mulut, komunitas ke komunitas, akhirnya nama Imam mulai familiar. Dari tahun 2000 Imam mulai dikenal sebagai pengibar bendera tunggal. Ia pun kerap diundang ke berbagai macam acara untuk mengibarkan bendera sebagai pembuka suatu kegiataan.

"Akhirnya saya dipanggil kemana-mana untuk mengibarkan bendera. Mudah-mudahan, nantinya di acara manapun, bisa menghormati merah putih, bisa menghormati Indonesia Raya. Supaya kita sungguh-sungguh," ungkapnya.

Dalam satu bulan, sekitar seminggu dua kali, Imam kerap mendapat panggilan untuk jadi pengibar bendera. Acara apapun, ia mengaku siap. Bahkan ia mengaku tidak berniat komersil dalam melakukan ritual pengibaran bendera ini.

"Saya pernah mengibarkan bendera di acara balap sepeda, bikers, acara pencak silat, diskusi budaya, acara pemkot, demo buruh, sampai acara kementrian," terang ayah dari dua anak ini.

Selain menjadi pengibar bendera, pria lulusan Seni Rupa IKIP tahun 1987 ini juga bekerja di salah satu sekolah swasta di Bandung. Selama masih diberi kesempatan, menurut Imam, ia akan terus menjalankan hobi-nya mengibarkan bendera.

"Saya hanya ingin orang-orang membiasakan mengibarkan bendera dan menyanyikan Indonesia raya sebelum memulai acara. Sebagai upaya pemersatu bangsa," tegasnya.



(avi/ern)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini