"Kasian, sedih. Kondisi anak kaya gini diurusnya sama nenek-nenek gini," tutur Marasem.
Bagi Marasem, kegundahannya tak hanya karena melihat kondisi Yulia. Ia membayangkan, bagaimana nasib Yulia jika dirinya atau suaminya sudah meninggal dunia. "Diurus sama siapa nanti," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehari bisa 4 kali," kata Marasem sambil menunjukkan gelas yang digunakan untuk tempat bubur bayi instan yang diberikan pada Yulia. Biasanya, Yulia menghabiskan waktu di rumahnya di Karawang sambil diayun di kain. Di kamar sewaan di Bandung, Yulia terpaksa berbaring tanpa mengenakan pakaian.
Sementara itu, Ketua LSM Kampus Peduli, Ma'mun Salman mengatakan, Yulia adalah kasus gizi buruk pertama yang mereka bantu. Selain Yulia, ada juga bocah gizi buruk di Sukabumi yang juga saat ini mereka bantu.
Kampus Peduli telah membantu 15 orang duafa yang tak mampu. Namun 6 di antaranya kemudian menghembuskan nafas terakhir. Salman pun optimis, kondisi Yulia akan bisa membaik.
"Melihat kondisinya yang kuat selama ini, kami optimis," tuturnya. Bantuan dari relawan dan donatur selama ini dikatakan Salan sangat membantu.
(tya/ern)











































