Asep Warlan, pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), menyebut ada sisi psikologis berbeda ketika Aher dan Dede kembali berduet mengendalikan tampuk pemerintahan Jabar setelah masa cuti selesai.
"Pasti ada sisi psikologisnya. Karena mereka ngantor bukan lagi seperti gubernur atau wagub dulu, tapi sebagai calon (gubernur)," kata Asep usai debat kandidat di Bandung Convention Center (BCC), Kota Bandung, Rabu (20/2/2013) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau seandainya mereka bijak, arif, negarawan, tunjukkan bahwa mereka bisa kembali membangun kekompakkan di ujung (jabatan) itu," jelas Asep.
Meski keduanya sama-sama cagub, tapi dalam urusan pemerintahan keduanya diharapkan tetap bekerja sesuai tupoksi masing-masing.
Persaingan merebut posisi Jabar I diharapkan tidak memengaruhi kondusivitas di Pemprov Jabar.
Keduanya, sambung Asep, juga diharapkan happy ending saat mengakhiri jabatan. Sehingga tidak ada kesan buruk yang tertinggal.
"Paling tidak mencerminkan toh pemimpin pun bisa damai. Bagus betul itu kalau mereka bisa happy ending," pungkas Asep.
(orb/ahy)











































