Tataloe Percussion, Meramu Musik dari Barang Bekas

Tataloe Percussion, Meramu Musik dari Barang Bekas

Avitia Nurmatari - detikNews
Sabtu, 16 Feb 2013 11:46 WIB
Bandung - Eksplorasi bunyi, itulah ide awal terbentuknya kelompok musik Tataloe Percussion. Dengan memanfaatkan barang bekas, Tataloe mampu menciptakan warna suara perkusi menjadi lebih kaya dan berbeda.

Tataloe Percussion terbentuk sejak tahun 1999. Mulanya Tataloe mempunyai jumlah personel sebanyak 25 orang lebih dengan latar belakang yang rata-rata serupa, yakni jurusan Seni Musik Universitas Pasundan (Unpas). Kini personelnya hanya tinggal 9 orang saja, yakni Dadi, Arif, Sani, Budi, Kadek Nengah, Andri, Imanuel, Tantan dan Budiman.

Di tangan mereka, barang bekas bisa menghasilkan bunyi-bunyian yang lebih energik dan berbeda, pemanfaatan media barang bekas seperti drum minyak, wajan, panci, sapu lidi, sendok semen, velg mobil, paralon, botol dan lainnya terdengar harmonis dan indah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi meskipun barang bekas telah menjadi imej Tataloe Percussion, tapi kami juga memainkan alat musik tradisional maupun moderen. Seperti kendang dan drum," terang Dadi kepada detikbandung.

Dari barang bekas itu, Tataloe bisa membawa nama bangsa Indonesia di kancah Internasional. Beberapa kali Tataloe berkesempatan untuk mengolah dan mengkomposisikan instrument tradisional untuk pertunjukan di dalam negeri maupun di luar negeri.

"Kami pernah main di Jepang dan Cina dalam acara 'Pasundan Seba Buana' sebagai duta kesenian dari Indonesia pada tahun 2011. Waktu itu yang jadi show directornya Budi Dalton," terang Dadi.

Pada 20-24 Februari mendatang, Tataloe juga terpilih untuk mewakili Indonesia di The Royal Belum World Drum Festival 2013.

(avi/avi)


Berita Terkait