"Selain menjajal langsung kenyamanan naik angkot, saya dan istri nostalgia. Dulu saat masa pacaran sering naik angkot di Bogor," ungkapnya, Jumat (17/2/2013).
Pada kesempatan itu Dede mengimbau agar setiap kaca angkot lebih terang agar dapat terlihat dari luar. Hal itu untuk menjaga kenyamanan dan keamanan penumpang dari tindak kejahatan. "Saya juga usul di setiap angkot ada tombol panik yang jika ditekan ada bunyi sirine. Ini untuk antisipasi kejahatan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu masih kuliah saya dan istri sering melintas di sini. Dulu belum banyak centra produk lokal. Alhamdulillah sekarang sudah banyak," katanya.
Sebelumnya Dede juga sempat belanja sayuran di pasar tradisonal Ciawi. Sayuran yang dibeli hasil dari pertanian sekitar Bogor. "Bogor ini pusat penghasilan sayuran dan buah-buahan. Sebagian besar sayuran dan buah untuk Jakarta dipasok dari Bogor. Nah ini potensi ekonomi yang harus dikembangkan. Kalau perlu mendirikan BUMD yang khusus menangani produk pertanian di Bogor," paparnya.
Ditanya kawasan puncak yang makin macet? Dede mengatakan, jalan keluarnya adalah memecah sentra ekonomi rakyat. Ia mencontohkan, buat sentra ekonomi baru seperti di daerah Jonggol dan sekitarnya. "Jadi centra ekonomi rakyat tidak menumpuk di kawasan puncak yang sudah padat," pungkasnya.
(ern/ern)










































