Tahun 2013, Tiga Kali Longsor di Tol Cipularang

Tahun 2013, Tiga Kali Longsor di Tol Cipularang

Tya Eka Yulianti - detikNews
Rabu, 13 Feb 2013 15:17 WIB
Tahun 2013, Tiga Kali Longsor di Tol Cipularang
Bandung - Kepala Dinas Kementrian ESDM Kabupaten Purwakarta Tarsamana Setiawan menyebut baru bulan kedua memasuki tahun 2013, sudah terjadi tiga kali longsor di Tol Cipularang. Penyebabnya kontur tanah yang labil ditambah curah hujan yang tinggi.

"Sejak Januari sampai pertengahan Februari ini di catatan kami ini yang ketiga kalinya," tuturnya.

Titik longsor yaitu di KM 84, KM 92 dan terakhir di KM 100. Penyebab longsor pun tak jauh berbeda, yaitu karena curah hujan tinggi dan kontur tanah yang labil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang sebelumnya juga penyebabnya sama. Tapi longsornya memang tidak besar. Tidak sampai menutup jalan," katanya.

Upaya yang dilakukan Jasa Marga disebutkan Tarsamana sudah tepat, yaitu dengan membuat terase pada wilayah tebing. Bahkan ada pada titik yang berpotensi tinggi telah dipasang dinding terase sebagai penahan.

Lebih lanjut Tarsamana mengungkapkan longsor yang terjadi di KM 100, akibat alih fungsi lahan di area longsoran. "Volume longsoran belum bisa kami perkirakan banyaknya. Kami baru dapat data luasan saja," ujar Tarsamana.

Namun dari hasil pengamatan di lapangan, ia menyebut, penyebab terjadinya longsor selain curah hujan tinggi adalah karena adanya alih fungsi lahan.

"Dulu yang saya tahu di kawasan ini adalah kebun teh. Tapi tadi ketika dicek di atasnya itu jadi kebun palawija, seperti singkong. Sehingga sudah terjadi alih fungsi lahan," tuturnya.

Karena jenis tanaman yang dinilai tidak memiliki pengakaran kuat, hal itu mengakibatkan tanah gembur di bagian atas tak bisa menahan air dan mencari keseimbangan sehingga longsor.

"Kalau teh itu pengakarannya kuat. Sementara ini, kondisi bidang yang licir, penuh air sehingga akhirnya tidak bisa menahan dan longsor," jelas Tarsamana.

Ia menyebut, akan memastikan pemilik dari lahan tersebut, apakah milik PTPN atau warga. "Apakah itu milik PTPN yang memang digarap oleh masyarakat, atau memang milik masyarakat. Harus ada pendekatan supaya masyarakat menanam tanaman yang pengakarannya kuat sehingga menyerap air dan menahan longsor," tambahnya.

Panjang longsoran yang jatuh mencapai 64 meter, dengan ketinggian tebing sekitar 30 meter dan mahkota (tebing bagian atas yang jatuh) sepanjang 18 meter. Tebing yang masuk wilayah Kampung Sukarapih Desa Sawit Kecamatan Darangdan Kabupaten Purwakarta itu berada di sisi kiri jalan dengan jarak dari mahkota tebing sekitar 10 meter dengan kontur berumpak.

Volume longsoran itu memenuhi badan jalan sepanjang 11 meter dengan ketinggian mencapai 2 meter. Bahkan tanah longor itu mengakibatkan besi penahan silau yang dipasang di atas tembok median jalan terlepas dan tananhnya meluber ke jalur di sebelahnya.

(tya/ern)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini