Sebelum dikenal sebagai menteri dan orang besar seperti saat ini, Hatta Rajasa juga mengalami masa-masa sulit saat merintis sebagai entrepreneur. Ia pun membagi kisahnya sejak pertama kali hijrah ke Bandung untuk kuliah dan akhirnya membuka usaha sendiri bersama teman-temannya.
Ia memulainya dengan sebuah moto, 'if we think we can, we can. Bahwa yang bisa merubah nasib adalah diri sendiri bukan lain.
Diceritakan Hatta, selepas SMA ia diterima kuliah di ITB Bandung. Itu pertama kalinya ia berpisah jauh dari keluarga. "Sebelumnya saya belum pernah ke Bandung. Jadi saat itu saya tembak langsung saja," ujar Hatta saat menjadi keynote speake dalam acara ITB Enterpreneurship Challenge (IEC) 2013, di Sasana Budaya Ganesha Bandung, Jalan Tamansari, Sabtu (9/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibunya pun berpesan supaya Hatta mencari kegiatan di masjid yang terdekat disitu. Maka kala itu Hatta pun aktif berkegiatan di Masjid Salman. "Tekad saya menjadi wirausaha muncul sekitar tahun 1978 setelah beres kuliah. Saya bersama tiga teman mendirikan perusahaan, semacam start up company tapi kami belum mengerti saat itu," katanya.
Modalnya pun hanya dari kiriman orang tua yang saat itu besarnya hanya Rp 12.500. "Setiap bulan jumlahnya tidak kurang tidak lebih. Kalau orang tua saya tanya cukup atau tidak, saya selalu jawab cukup," kisahnya.
Membuat CV bersama teman-teman, Hatta pun berangkat ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Keluar masuk kantor dan menerima penolakan pun dilakoninya hingga 3 bulan lamanya. Teman-temannya pun nyaris menyerah dan ingin bekerja biasa saja.
"Sampai akhirnya, kami dapat pekerjaan. Tak tanya berapa bayarannya kami ambil dan kerjakan selama 3 bulan. Pas pekerjaan selesai, katanya pekerjaannya bagus. Budget untuk pembayaran kami 21 ribu dollar. Waktu itu hampir pingsan dengar dollar. Biasa cuma Rp 12.500 kiriman orang tua," tutur Hatta.
Setelah itu perusahaan kecil-kecilannya itu pun mulai merangkak. Ia pun mulai dipercaya untuk mendapatkan pinjaman kredit dari bank hingga akhirnya sukses. "Pembelajarannya, pengusaha itu pantang menyerah, tidak pernah mengatakan kita stop. Kita bisa saja gagal, dikibulin orang tapi never give up melainkan evaluasi," katanya.
Ia pun menyebut agar harus ada keyakinan bahwa selalu ada manusia yang ingin menolong untuk sukses. "Tinggal temukan konektivitas, jaringan. Kalau dapat kerjaan laksanakan untuk dapat kepercayaan. Sukses atau tidaknya tergantung kita mengerjakan pekerjaan," tuturnya.
Melihat dirinya yang hanya berbekal Rp 12.500 dankini bisa sukses, ia pun meyakinkan peserta seminar untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah meraih kesuksesan. "Itu cerita sukses saya. Seorang anak kampung yang dibekali doa dan modal pas-pasan. Saya yaki saudara bisa lebih lagi sukses lagi," tutupnya.
(/)










































