Kabayan Jadi Presiden, Persib-Persija Harus Damai

Kabayan Jadi Presiden, Persib-Persija Harus Damai

Avitia Nurmatari - detikNews
Jumat, 08 Feb 2013 08:03 WIB
Bandung - Malam itu, Indonesia memilih Kabayan sebagai presidennya. Tokoh Sunda yang lucu, polos dan cerdas itu secara aklamasi terpilih sebagai presiden dari Partai Cakcak Bodas.

Padahal Kabayan hanya dijadikan sebagai alat politik dari wakilnya yang merupakan ketua partai dan kroco-kroco di jajaran kabinet. Namun Kabayan yang muak dengan korupsi, kekerasan, dan permaslahan lainnya di Indonesia, menolak semua pengajuan program-program dari para menterinya.

Dalam pidato kenegaraan perdananya, Kabayan menekankan perdamaian antar umat beragama, dan perdamaian antara Persib dan Persija.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Persib dan Persija harus bersatu, harus damai melawan korupsi, melawan kebodohan, kudu ngahiji. Ulah silih podaran (jangan saling membunuh-red), damai Indonesia," teriak Kabayan.

Itulah sepenggal cerita dari lakon komedi bertajuk 'Kabayan Jadi Presiden' yang digelar di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Kamis (7/2/2013) malam.

Pertunjukan karya Didi Petet itu dibuka oleh video rekaman saat Soeharto memutuskan berhenti dari jabatan sebagai presiden. Setting panggung sangat sederhana. Mulai dari penggambaran suasana tatar Sunda yang nyaman dan asri, hingga suasana istana negara.

Di sisi kanan panggung terdapat kelompok gamelan Sunda, sementara di sisi kiri kelompok musik Karinding Attack ikut menjadi pengisi musik dalam pementasan ini.

Para pemain yang terdiri dari Tisna Sanjaya (yang berperan sebagai kabayan-red), Aat Soeratin, Didi Petet, Hari Pochang dan beberapa artis dan komedian seperti Peggy melati Sukma, Joe P P-roject, Argo, Oni OS, Herry Artha, Budi Dalton, Mang Imank dan lainnya, bermain penuh improvisasi dan melontarkan banyolan-banyolan khas Sunda. Ruangan Sabuga malam itu pun tak pernah sepi dari suara gelak tawa dan tepuk tangan penonton.

Setelah hampir tiga jam. Sebuah tembang ciptaan Harry Roesli yang bertajuk "Jangan Menangis Indonesia" menjadi penutup pertunjukan yang menggugah nasionalisme kita.

(avi/ern)


Berita Terkait