Ini Dia Penjelasan Dada Soal Babakan Siliwangi

Ini Dia Penjelasan Dada Soal Babakan Siliwangi

- detikNews
Rabu, 06 Feb 2013 20:04 WIB
Ini Dia Penjelasan Dada Soal Babakan Siliwangi
Bandung - Banyak dikritisi dan digugat oleh berbagai elemen masyarakat soal Babakan Siliwangi, Walikota Bandung Dada Rosada pun gerah. Ia pun angkat bicara menjelaskan rencana pembangunan yang akan dilakukan di World City Forest itu.

"Saya ini banyak digugat, katanya masyarakat tidak mengizinkan pembangunan hotel, mal di Baksil. Siapa yang mengizinkan hotel dan mal. ," ujar Dada di Pendopo Banudng, Jalan Dalem Kaum, Rabu (6/2/2013).

Ia mengatakan, izin yang diberikan pada pengembang, yaitu PT EGI adalah untuk membangun kembali restoran yang sebelumnya jadi bagian dari hutan kota tersebut. "Yang akan dibangun adalah rumah makan yang dulu ada, sekarang tidak ada, jadi ada lagi. Tempatnya di dipinggir, tempat yang dulu," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, rumah makan yang akan dibangun tersebut akan menjadi fasilitas penunjang. Sebagai kota pariwisata, Dada menilai keberadaan rumah makan sebagai bagian kecil dari ruang terbuka hijau itu akan menjadi daya tarik supaya Baksil ramai dikunjungi.

"Bandung kota jasa, dalam rangka pariwisata kita ingin supaya orang yang datang mengeluarkan uang untuk belanja, hotel, parkir, makan. Taman kota atau hutan kota kita buat bukan hanya untuk dilihat, tapi dimasuki juga. Untuk duduk-duduk, belajar dan menikmati. Orang datang ke situ terserah, asal jangan merusak. Mau rekreasi, bawa anak, jalan jalan, tapi setelah itu dia cape, kalau di tengah hutan mau kencing, masa di pohon. Makanya dibuat WC, musola untuk solat, tempat untuk berteduh dan makan minum. Tempatnya tidak banyak," jelasnya.

Ia pun menyatakan komitmen bahwa masyarakat tetap bisa masuk dan menikmati Baksil sebagai ruang publik tanpa terganggu dengan keberadaan rumah makan. "Kami tidak akan menutup akses," janji Dada.

Dada mencontohkan di sejumlah negara yang pernah ia datangi, hutan kota atau taman kota juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang. Negara Singapura, Malaysia dan Cina ia sebut memiliki hutan seperti Baksil.

"Di Singapura yang keras soal lingkungan, saya perah makan di dalam hutan kotanya. Ada bangunannya, bahkan ada seperti UPT atau museum yang menjelaskan tentang hutan tersebut," tuturnya.

Sebelumnya Dada mengaku, jika pihak pengembang sempat mengajukan kondominium dan rumah kayu, namun ia tolak. Soal rencana pembangunan rumah makan pun Dada mengaku tergantung kesiapan dana dari pengembang.

"Kapan dibangun itu bagaimana pengembang. Punya uang enggak. Malahan menurut saya, itu mereka bakal laku apa bangun rumah makan di situ," tutupnya.

(/)


Berita Terkait