Ketua Apdasi Jabar Dadang Iskandar menyebut di Jabar ada sekitar 1,2 juta orang yang terlibat dalam perdagangan sapi. Hampir setengahnya dari jumlah itu terpaksa pensiun karena harga daging sapi yang terus melejit dalam kurun sekitar setengah tahun terakhir.
"40 persen para pedagang, pengecer, sampai bandar berhenti menjalankan usahanya," kata Dadang di Sekretariat Apdasi Jabar, Jalan Mutumanikam, Jumat (1/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika daging sapi dijual dengan harga rendah, maka mereka akan rugi karena harganya sangat tinggi.
Melihat kondisi ini, Dadang menyebut perlu ada political will dari Gubernur Jabar Ahmad Heryawan atau Pemprov Jabar.
"Keadaan ini sangat mendesak dan perlu ada political will, terutama dari gubernur untuk tata niaga sapi dan pengendalian," ujar Dadang.
"Kalau bisa minta (ke pemerintah pusat) kuota khusus dalam bentuk sapi treding untuk menekan gejolak harga sapi," tuturnya.
Usulan itu menurutnya pernah beberapa kali disampaikan ke Komisi B DPRD Jabar. "Bahkan kami selalu bicara di media massa bahwa tata niaga sapi perlu dibenahi," papar Dadang.
Ia bahkan kecewa dengan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang tidak menggagas perda soal tata niaga sapi. "Gubernur tidak ada kepedulian terhadap kami. Kami sangat kecewa," keluhnya.
(orb/ern)










































