2 Hari Mogok Jualan, Pedagang Daging Sapi di Jabar Merugi Rp 5,6 M

2 Hari Mogok Jualan, Pedagang Daging Sapi di Jabar Merugi Rp 5,6 M

Baban Gandapurnama - detikNews
Selasa, 22 Jan 2013 17:19 WIB
Bandung - Dua hari pedagang daging sapi di Jawa Barat (Jabar) memilih mogok berjualan lantaran pasokan langka dan harga meroket. Akibat aksi mogok, pedagang daging sapi di Jabar yang diklaim berjumlah sekitar 10 ribu orang merugi Rp 5,6 miliar.

"Mogok jualannya dari Senin sampai Selasa ini. Satu hari keuntungan seluruh pedagang daging sapi di Jabar mencapi 2,8 miliar rupiah seharinya. Sudah dua hari mogok, berarti keuntungan per hari itu hilang. Ya, tinggal jumlahkan saja," kata Sekjen Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (Apdasi) Jabar Yayat Sumirat saat ditemui usai audiensi dengan Komisi B DPRD Jabar di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Selasa (22/1/2013).

Yayat menuturkan, laba pedagang yang diperoleh dari satu ekor sapi itu berkisar Rp 200 ribu. Setiap hari di Jabar, sebanyak 1.200 hingga 1.400 ekor sapi yang dipotong.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Satu bulan itu, kebutuhan sapi potong di Jabar mencapai 30 ribu hingga 40 ribu ekor. Sekitar 30 persennya merupakan sapi lokal, sisanya sapi impor," ungkap Yayat.

Pedagang daging sapi di Jabar, sambung Yayat, berencana kembali mogok melayani konsumen hingga Rabu (23/1/2013).

Kepada wartawan Yayat menjelaskan, kenaikan harga daging sapi yang menembus Rp 90 ribu per kilogram sudah terasa sejak dua minggu lalu. Diprediksi harga daging per kilogram bisa terus meroket hingga Rp 100 ribu. "Kalau normalnya itu harganya 70 ribu rupiah per kilogram," ucapnya.

Yayat menuding Pemprov Jabar gagal melakukan swasembada sapi potong yang memicu harga daging sapi terus melambung. APDASI Jabar mensyinyalir kelangkaan sapi dan naiknya harga melibatkan ulah spekulan serta kaum kapitalis.

"Kami menduga ada permainan di barang (sapi) dan harga. Imbasnya kan pedagang daging sapi menjadi pusing. Jualan rugi, enggak jualan rugi. Jadi sementara waktu pedagang istirahat atau tidak beraktivitas," tutup Yayat.

(bbp/ern)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini