Tim Unpad Usulkan Dua Nama Stadion untuk Dipolling

Tim Unpad Usulkan Dua Nama Stadion untuk Dipolling

Baban Gandapurnama - detikNews
Kamis, 17 Jan 2013 15:15 WIB
Tim Unpad Usulkan Dua Nama Stadion untuk Dipolling
Bandung -

Tim Kajian Naskah Akademis Stadion Utama Sepak Bola (SUS) di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, rampung menyelesaikan tugasnya. Ada dua nama stadion diusulkan Tim Kajian dari Universitas Padjajaran (Unpad) ini.

"Dua nama yang tim rekomendasikan yakni Stadion Bandung Lautan Api (BLA), dan Stadion Gedebage Kota Bandung," jelas Ketua Tim Kajian, Nina Herlina Lubis, usai rapat gabungan dengan Komisi A dan D DPRD Kota Bandung di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Bandung, Kamis (17/1/2013).

Ia mengatakan timnya bekerja selama 1,5 bulan atau sejak Desember lalu. Menurut Nina, dari 40 nama yang dianalisa, mengerucut menjadi 20 nama. Setelah melewati penyeleksian ketat, sambung Nina, akhirnya tim mengantongi dua nama tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada sekitar empat puluh nama stadion yang kami terima berdasarkan surat usulan masuk ke DPRD, dari surat kabar, radio, facebook, twitter, dan makalah. Setelah itu kami gabung-gabungkan," kata Nina.

Lebih lanjut Nina menuturkan, tim terdiri tujuh orang mengkaji berdasarkan beragam aspek terkait penamaan SUS di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Aspek dikaji dari ilmu sejarah, kebijakan publik, hukum, sosiologis serta antropologis, bahasa Indonesia, dan bahasa Sunda.

Tujuh orang tergabung dalam tim, Nina mengatakan, menyepakati dua nama tanpa ada perbedaan pendapat. Tim Kajian Unpad ini dimintai DPRD Kota Bandung turut terlibat mengkaji nama stadion berkelas internasional yang dibangun di wilayah Gedebage.

"Jadi, dua nama stadion tersebut sudah berdasarkan kajian ilmiah. Kami bertujuh pun bekerja secara independen," ungkap Nina.

Tim Kajian terdiri tujuh orang ini yaitu Nina Herlina Lubis (kajian historis), Didin Muhafidin (kajian kebijakan publik), Hernadi Affandi (kajian hukum), Budi Rajab (kajian sosiologis antropologis), Awaludin Nugraha (kajian historis), Agus Nero (kajian bahasa Indonesia), Teddy Muhtadin (kajian bahasa Sunda).

(bbp/ern)


Berita Terkait