"Jabar ini ketika musim hujan, angin, pasti rawan longsor, apalagi ditambah perusakan hutan. Tidak dirusak saja Jabar ini rawan longsor," ujarnya saat kunjungan ke kantor Trans Corp Biro Bandung, Jalan Lombok No 33, Kamis (10/1/2013).
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi longsor, ia mengaku sudah melakukan berbagai persiapan agar tidak ada korban dan menekan sekecil mungkin kemungkinan longsor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosialisasi yang dimaksud adalah menginformasikan ke masyarakat untuk mewaspadai titik rawan bencana. Bahkan mereka disarankan pindah atau dievakuasi jika terjadi bencana, sebelum atau sesudah bencana terjadi.
"Untuk meyakinkan masyarakat memang sulit. Tapi meski begitu BPBD terus memberikan pemberitahuan dan sosialisasi," ujarnya.
"Dengan cara itu mudah-mudahan ketika ada longsor tidak ada korban jiwa dan longsor bisa diantisipasi dengan baik," ujar Heryawan.
Sementara itu soal nelayan di Jabar yang tak bisa melaut saat ini, Heryawan meminta nelayan jangan menganggap hal itu sebagai musibah.
"Jangan dianggap musibah oleh para nelayan (angin) musim barat seperti ini. Tapi anggap ini anugerah," katanya.
Kenapa harus dianggap anugerah? Heryawan lalu memberi penjelasan. Menurutnya, memang nelayan tidak bisa melaut. Tapi justru saat ini ikan-ikan di laut sedang bertelur atau membesarkan anak-anaknya.
"Saat musim ini selesai, nelayan kan tinggal nangkap (ikan)," ucapnya. Ikan-ikan yang ditangkap nanti adalah ikan yang baru menetas saat ini atau dibesarkan induknya.
Musim yang terjadi saat ini, sambung Heryawan, adalah mekanisme alamiah dan ilahiah. Di mana ketika nelayan tidak bisa berlayar, Tuhan memberi kesempatan pada ikan untuk berkembangbiak agar bisa dipanen oleh nelayan nanti.
"Antisipasinya tentu nelayan ini mengalihkan mata pencahariannya saat musim seperti ini," tuturnya.
(orb/ern)











































