"Saya sepakat dengan keputtusan MK," kata Rieke, Kamis (10/1/2013).
Ia mempertanyakan keberadaan RSBI selama ini. Sebab masyarakat makin tersekat dengan keberadaan RSBI yang tidak bisa dijangkau semua kalangan.
"Saya ingin menanyakan apa konsep standar internasional itu, untuk siapa? Kalau itu hanya membuat rakyat semakin jauh dengan dunia pendidikan, untuk apa," cetus Rieke.
Yang diperlukan dalam dunia pendidikan di Indonesia saat ini, menurutnya bukan RSBI. "Kita bisa mengembangkan kurikulum pendidikan yang lebih baik yang orientasinya tidak melulu pada cara pendidikan barat, tapi kembali pada nilai-nilai lokal, kearifan lokasl," jelasnya.
Sebab dalam kearifan lokal terdapat banyak hal yang bisa jadi pijakan bagi masyarakat untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Selain itu, ada hal yang jauh lebih penting ketimbang mempertahankan RSBI.
"Yang lebih penting bagaimana guru dan murid ini bisa berada dalam dunia belajar-mengajar yang lebih baik ke depan, anak-anak tidak putus sekolah, guru tidak frustasi karena honornya kecil, terutama guru honorer," tutur Rieke.
Hal sama juga berlaku untuk dunia kesehatan yang juga ada rumah sakit berstandar internasional. Yang diperlukan bukan status rumah sakit berstandar internasional, tapi kualitas dan pelayanan kesehatan yang ramah dan murah bagi masyarakat.
"Dua hal ini (pendidikan dan kesehatan) adalah amanat UUD 1945, dijamin oleh pemerintah. Yang harus dipastikan adalah pelayanan pendidikan dan kesehatan yang bisa diakses masyarakat dengan mudah, bukan persoalan internasional atau tidak internasional," tegas Rieke.
(orb/ern)











































