Raw Bunny, Kritik Budaya Konsumerisme Lewat Kelinci

Raw Bunny, Kritik Budaya Konsumerisme Lewat Kelinci

Avitia Nurmatari - detikNews
Rabu, 09 Jan 2013 09:28 WIB
Raw Bunny, Kritik Budaya Konsumerisme Lewat Kelinci
Bandung -

Mahasiswa S2 Seni Rupa ITB menggelar pameran seni rupa yang bertajuk 'Kitaran'. Salah satu yang menarik perhatian adalah karya Nomas Kurnia. Mengusung tajuk Raw Bunny. Ia memamerkan sebuah gambar kelinci yang dikuliti dan potongan kelinci yang sudah diawetkan. Pengawetan sendiri dengan proses plastination.

"Metode pengawetan yang saya pakai bukan pakai formalin, tetapi metode baru yang lebih natural yaitu mengganti cairan tubuh supaya tidak busuk dengan plastik," jelas Nomas, kepada detikbandung.

Tubuh kelinci yang sudah dikuliti hingga menyisakan kulit di bagian kepala saja, dipisah-pisah hingga beberapa bagian, mulai tubuh, kaki, paha, tangan dan seterusnya. Lalu cairan yang ada di potongan tubuh kelinci diganti dengan plastik. Sehingga potongan tubuh kelinci tidak busuk atau bau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasilnya potongan tubuh kelinci kan mengering dan. bisa dirakit menjadi bentuk kelinci. Nomas kemudian mengemas maninan tersebut dlam wadah plastik berukuran 50x50 centimeter.

Maksud karya tersebut, kata Nomas, ia ingin menyampaikan kritik terhadap budaya konsumerisme dan kapitalisme. Saat ini berbagai produk terus bermunculan. Dan manusia merasa perlu memilikinya karena demi kesenangan. Nomas sendiri mengaku tidak melakukan proses penyiksaan kepada kelinci saat membuat karya itu.

"Kelinci merupakan simbol dari kesenangan. Kita mengkritik kapitalisme dengan cara paradox," tambahnya.

Karya milik Nomas ini bisa dilihat di nomastoy.com, atau bisa dilihat dalam pameran yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintiskemerdekaan mulai 7-13 Januari 2013.

Sementara itu Kurator pameran, Rumi Siddharta, menjelaskan pameran tersebut bagian dari tugas mahasiswa master Seni Rupa ITB. Pada semester pertama mahasiswa digodok soal ide-ide, lalu semester kedua mahasiswa diminta membuat karya dan kini di semester ketiga mereka harus memamerkan karya di ruang publik.

"Ini penugasan sebelum tahun depan membuat tugas akhir," katanya.

Persiapan pameran sendiri berlangsung 6 bulan. Saat persiapan, mahasiswa ada yang melakukan riset sebelum mulai membuat karya. Karya tersebut di antaranya Ivana Stojakovic, mahasiswa ITB asal Serbia, yang menyajikan instalasi sepeda, Paramitha Citta Prabaswara yang merancang jam dinding klasik berjudul "Hope", dan lain-lain.

Mahasiswa yang terlibat pameran yakni Kireina Windiah, Nomas Kurnia, Nugroho Prio Utomo, Patriot Mukmin, Theo Frits Hutabarat, Anita Yustisia, Aulia Ibrahim Yeru, Esra Oesen, Fransisca Retno, Ferri Agustian S, Firman Panji.

(avi/ern)


Berita Terkait