Hal itu diungkapkan Inggrid saat memberikan kesaksian untuk Agustinus dalam sidang yang digelar di ruang sidang IV Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LRE Martadinata, Senin (10/12/2012).
Inggrid menuturkan, sejak disepakati pengawalan oleh Agustinus, dirinya merasa lebih tenang. Meski pengawalan tidak seperti sebelumnya dimana Inggrid diikuti kemanapun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kemudian sehari sebelum penembakan, dirinya dihubungi mantan suaminya yang meminta agar banding hak asuh anak yang diajukan Inggrid untuk dicabut. Husein pun menyatakan akan datang ke rumah Inggrid untuk sama-sama ke pengadilan mencabut banding.
"Katanya Husein mau ke rumah jam 10.00 WIB, saya telepon Agustinus untuk memberitahukan itu dan meminta pengawalan untuk ke pengadilan," tutur Inggrid.
Keesokan harinya, Husein kembali memberi kabar bahwa ia akan datang setengah jam lebih cepat dari yang dijanjikan sebelumnya. "Saya telepon Agustinus lagi. Ngasih tahu kalau Husein datang lebih cepat. Saya juga nanya, apa nanti saya ikut di mobilnya Husein atau nyetir sendiri. Trus Agustinus bilang supaya saya nunggu di dalam rumah saja sampai dia (Agustinus-red) datang," ujarnya.
Inggrid pun sempat menerima kabar dari Husein melalui ponselnya bahwa ia sudah dekat. Ia pun sempat mengintip ke depan rumah untuk melihat apakah mobil Husein sudah ada atau belum. Namun hingga pukul 09.30 WIB yang dijanjikan tidak juga terlihat. Inggrid pun bercerita bahwa saat itu dirinya dalam kondisi kurang sehat dimana sejak Senin hingga Kamis ia dirawat di RS.
"Saya enggak berani telepon dia (Husein-red) karena takut dimarahi. Jadi saya nunggu saja. Saya waktu itu posisi ada di kamar mandi. Lagi mual-mual mau muntah," tutur Inggrid.
Saat itu ia mengaku samar terdengar suara letusan, namun tak mengira ada sesuatu terjadi. Ia menyangka saat itu itu adalah suara petasan atau latihan di Secapa yang memang sering terdengar.
Hingga pukul 10.30 WIB, Agustinus menelepon dirinya dan menyuruh Inggrid mencemplungkan handphone yang digunakan khusus untuk menghubunginya ke dalam air. "Saya enggak ngerti kenapa. Tapi Agustinus bilang, saya harus nurut," kisahnya.
Karena Husein tak juga datang, Inggrid pun memilih untuk keluar untuk urusan butiknya. Namun saat mengeluarkan mobil, ia disuruh lewat jalan atas oleh orang-orang di depan rumahnya, karena kalau lewat bawah ada tabrakan. Di tengah jalan, Inggrid sempat membuang handphone yang digunakan khusus untuk menghubungi Agustinus.
Namun belum sampai tujuan, ibunda Inggrid menelepon dan memintanya pulang. "Di rumah saya dikasih tahu polisi kalau Husein ditembak. Saya tidak mengira-ngira siapa yang melakukannya," katanya.
Hingga akhirnya sekitar 2 minggu kemudian Inggrid dihubungi oleh Agustinus dan meminta bertemu di sebuah tempat karaoke. Saat itulah Agustinus mengaku bahwa ia telah kelepasan menembak Husein.
"Waktu ketemu Agustinus diam saja. Lalu dia bilang 'maaf'. Saya masih belum mengerti, lalu dia bilang 'maaf, saya udah kelepasan menembak Husein'," cerita Inggrid.
Saat itu Inggrid mengaku khawatir dirinya terseret apalagi Husein saat itu statusnya merupakan 'bodyguard' Inggrid. "Saya bingung, mau lapor polisi gimana. Enggak juga gimana," katanya.
Untuk jasa pengawalan ini, Inggrid harus membayar Rp 200 juta untuk dua tahun. Ia pun menyerahkan perhiasannya dan ditaksir Rp 110 juta.
(tya/ern)











































