"Deddy Mizwar merupakan bagaimana contoh bagaimana dia direkrut secara instan kemudian dipasangkan dengan Ahmad Heryawan," ujar Analis politik Poin Indonesia Karel Harto Susetyo dalam diskusi publik BPP IMA AMS di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan, Kamis (22/11/2012).
Ia menyoroti PKS dan mitra koalisinya yang akhirnya mengusung Deddy. Sebab selama ini Deddy tidak pernah berkecimpung dalam dunia politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maraknya artis dalam dunia politik saat ini menurutnya adalah sebuah pergeseran. Jika dulu ulama lebih banyak didorong, kali ini justru berbeda.
Partai ramai-ramai ingin memenangkan persaingan. Sehingga partai beramai-ramai pula merekrut artis yang punya popularitas untuk didorong jadi anggota legislatif atau kepala daerah.
"Jelang pemilu, partai melakukan hal instan untuk menang, biasanya merekrut orang populer. Padahal orang populer ini sangat kecil interaksinya dengan partai," tuturnya.
Selain itu, para artis lebih banyak yang tidak punya pengalaman dan kemampuan menjadi politikus. "Mereka direkrut tiga sampai empat bulan sebelumnya, padahal tidak punya pengalaman mengorganisir basis (massa) dan tidak punya pengalaman interaksi dengan parpolnya sendiri," jelas Karel.
(orb/tya)











































