"Saya kira itu harus dikritisi oleh masyarakat. Itu kan banyak iklan-iklan atau program pemerintah Jabar yang saya kira itu dimanfaatkan di masa kampanye," ujar Teten saat ditemui usai acara Seminar Pilgub Jabar 2013 "Harapan Rakyat Jabar" yang digelar di auditorium Kampus Unikom, Jalan Dipati Ukur, Selasa (20/11/2012).
Ia mencontohkan, ada alokasi-alokasi pembangunan yang bisa menarik pemilih yang ditaruh di ujung-ujung periode pemerintahan. "Atau janji-janji pada kelompok tertentu yang akan diberikan pada anggaran yang akan datang. itu kan sama saja membuat janji politik atau deal politik untuk pemilihan. Itu harusnya dikritik, tapi seharusnya bukan saya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lebih baik dipakai untuk yang bermanfaat lah, untuk orang kecil. Ini angka pengangguran tinggi, gizi buruk juga mencapai 6 juta, masa tega pemimpinnya menggunakan anggaran untuk iklan-iklan yang hanya untuk kepentingan pribadi, kepentingan politik," tuturnya
Teten menyebut, untuk menyampaikan berbagai keberhasilan atau kinerja itu bisa dilakukan melalui cara lainnya.
"Ini pemborosan, rakyat susah tapi anggaran malah dipakai untuk yang tidak terlalu penting. Kalau kinerja, ya sampaikan saja lewat rapat paripurna atau dialog dengan rakyat. Kalau ini pakai bintang, artis, mahal. Itu kan sama dengan iklankan diri sendiri. Itu yang menurut saya tidak etis," kata Teten.
Sebelumnya, Andrias Darmayadi dari Global Political Societies memberikan kritik atas kemunculan calon gubernur (cagub) incumbent dalam iklan yang ditayangkan di televisi nasional. Hal itu dinilai sebagai bentuk kampanye yang jelas.
(tya/ern)










































