Hal itu salah satu kesimpulan hasil survei terbaru dari Lembaga Survei Nasional (LSN) yang dilaksanakan tanggal 18 hingga 30 September 2012 di 26 kabupaten/kota di seluruh Jawa Barat.
Dalam rilis yang diterima detikbandung, Jumat (2/11/2012), populasi dari survei LSN adalah seluruh penduduk Jabar yang telah memiliki hak pilih (berusia 17 tahun ke atas, atau belum berusia 17 tahun tapi sudah menikah).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
of error) sebesar +/- 4,2% dan pada tingkat kepercayaan (level of confidence) 95%.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dengan responden dengan berpedoman quesioner. Survei ini dilengkapi dengan riset kualitatif melalui wawancara mendalam (depth-interview) dan analisis media.
Berdasarkan survei terbaru LSN, tingkat popularitas Aher termasuk dalam kategori sedang (menengah), tidak terlalu jelek namun juga kurang bagus. Saat ditanya pada responden sejauhmana tingkat pengenalan mereka terhadap sejumlah tokoh yang disebut-sebut akan maju dalam Pilgub Jabar 2013, hanya 58,5% yang mengaku kenal atau pernah mendengar nama Ahmad Heryawan. Angka ini jauh dibawah tingkat popularitas Dede Yusuf yang mencapai 97%.
Popularitas Aher bahkan juga kalah dari Rieke Dyah Pitaloka yang dikenal oleh 68,1% responden.
"Selain kurang begitu populer, tingkat penerimaan (akseptabilitas) masyarakat Jabar juga tidak terlalu bagus," ujar Direktur Eksekutif LSN Umar S Bakry dalam rilisnya.
Saat LSN menanyakan kepada responden sejauhmana tingkat akseptabilitas mereka terhadap para calon gubernur, hanya 50% responden yang mengaku βsukaβ atau bisa menerima Aher. Ini jauh di bawah Dede Yusuf yang bisa diterima oleh 84,1% responden.
"Tingkat penerimaan (akseptabilitas) dari publik akan menjadi dasar apakah mereka nanti memilih Aher atau tidak," jelas Umar.
Sementara soal elektabilitas, hanya 12,6% responden yang mengaku akan memilih Aher. Tingkat elektabilitas Aher ini tertinggal jauh dari Dede Yusuf yang dipilih oleh 41,8% responden.
Posisi Aher bahkan terancam oleh elektabilitas tokoh-tokoh lain seperti Dada Rosada (9,9%), Rieke Dyah Pitaloka (9,7%), Irianto MS Syafiuddin (7,6%), dan Teten Masduki (5,9%).
Menurut Umar, belum optimalnya tingkat popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas Aher merupakan fenomena yang anomali (menyimpang). Dalam pilkada di berbagai daerah, posisi incumbent biasanya jauh lebih unggul dari para penantangnya.
"Masa 6 bulan sebelum pelaksanaan pilkada, biasanya tingkat popularitas incumbent tidak kurang dari 70%, tingkat akseptabilitas di atas 60%, dan tingkat elektabilitas minimal 25%," katanya.
Sebab itu jika ingin terus melaju dan menang dalam Pilgub Jabar 2013, Aher mesti kerja keras mendongkrak tingkat tingkat dukungan publik terhadap dirinya, salah satunya harus aktif berkomunikasi dengan seluruh segmen masyarakat dan aktif terjun langsung ke komunitas-komunitas di bawah.
"Jalan pintas yang juga dapat ditempuh Aher adalah memilih calon wakil gubernur yang tidak hanya capable tapi juga popular. Aher harus bisa menemukan sosok cawagub yang kapabilitas, integritas dan popularitasnya bisa mengimbangi Dede Yusuf," katanya.
Perlu diingat, kata Umar, kecenderungan perilaku memilih (voting behavior) masyarakat Jabar berbeda dengan daerah-daerah lain. Sebab itu kisah sukses seorang kandidat gubernur di provinsi lain belum tentu bisa di-copy begitu saja dan diterapkan di Jabar. "Masyarakat Jabar menyukai tokoh yang populer," katanya.
(ern/ern)











































