"Selamat malam Jumat. Selamat datang di Nishkala Sarasvati," sapa Risa dengan suara mendesah. Risa sang pemilik singgasana panggung malam itu berhasil membuat penonton yang memadati Sasana Budaya Ganesha, Kamis (1/11/2012) terpukau.
Bukan konser Sarasvati jika tidak membawa unsur mistis dalam pagelarannya. Perjalanan penonton dari pintu depan Sabuga hingga ke dalam area panggung pun dibuat tidak biasa.
Penonton seolah diajak berpetualang ke dalam lorong rumah hantu. Peti mati, kaki perempuan yang menggantung seolah bunuh diri, hantu perempuan, kaca-kaca tua, pasien rumah sakit, dan lainnya yang membuat sebagian pengunjung ketakutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak lama dari nada pertama intro tembang bertajuk 'Maddah', sang pemilik pangung Risa Saraswati muncul dengan pakaian hitam aksen merah, dari sudut kiri panggung.
Tembang 'Maddah' adalah salah satu nomor yang ada di album kedua Sarasvati bertajuk 'Mirror'. Maddah juga diambil dari judul buku kedua Risa.
Di tembang kedua 'Haunted Sleep', Risa mulai melempar kejutan-kejutan kecil. Tiba-tiba di panggung muncul sosok boneka raksasa berwajah seram menemani Risa menghabiskan lagunya saat itu.
"Terimakasih sudah membuat tiket kami sold out. Dulu Sarasvati ini solo project saya. Tapi setelah kami mengerjakan aransemen lagu bersama, sarasvati adalah band," ungkapnya.
"Yes, we are happy family," ucap Risa membuka tembang 'Fighting Club'.
Risa begitu menikmati konsernya malam itu. Tubuhnya berayun ayun mengikuti setiap nada indah dari setiap alat musik.
"Seperti semuanya ketakutan lihat saya. Ingat hantu itu jarang ada yang gemuk," selorohnya saat menutup lagu ketiganya itu.
Meski baru menginjak tembang ketiga. Sangat terlihat konser Nishkala Sarasvati tidak dibuat asal-asalan. Semua disiapkan dengan matang. Detail setiap pertunjukan sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk kejutan-kejutannya di setiap lagu yang akan dibawakan Risa.
Seperti pada tembang 'Question', nomor yang ada di album 'Story of Peter', Sarasvati menggandeng grup musik tradisional Tarawangsa. Dua orang penari berpakaian putih dan hitam juga tampak meliuk-liuk diiringi suara rebab.
"Kalian tahu itu suara apa? Itu rebab. Kami mencoba membawa alat musik Sunda ke dalam lagu-lagu kami," jelas Risa.
Penonton kembali dibuat terkejut dengan hadirnya vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil, di atas panggung. Duet Risa dan Cholil melantunkan tembang 'Mirror' pun berhasil membuat penonton terkesima.
Risa bercerita, tembang 'Mirror' ini mengisahkan sosok Elizabeth yang ia ceritakan di salah satu bab dalam buku 'Maddah'.
Suasana panggung kembali mencekam, Risa duduk bersimpuh. "Assalamualaikum Teh Mae, wilujeng sumping kadieu," Risa menyapa 'seseorang' yang konon membuatkan lirik tembang 'Bilur'. Suasana Sasana Budaya Ganesha malam itu, hening. Menggandeng penyanyi Sunda Ambu Ida, dengan sempurna 'Bilur' pun mengalun syahdu.
Risa lengser dari panggung saat Ambu Ida menyumbangkan suaranya di akhir tembang 'Bilur'. Namun penonton tak dibiarkan melepaskan mata dari panggung. Di akhir sesi pertama ini, WOW Percussion didaulat untuk mengisi kekosongan panggung.
Intro Cut & Paste membawa kembali Risa ke singgasananya malam itu. Tetap memakai baju hitam, namun kali ini aksen merah disimpannya di atas kepala sebagai bando. Di sesi kedua ini Risa membawakan tembang-tembangnya di album 'Mirror' seperti 'Aku dan Buih', dan 'Death can tell a lie'. Risa juga membawakan karya milik Abah Iwan Abdulrahman yang berjudul 'Melati Putih'.
Kejutan dalam sesi kedua ini membuat penonton terkesan. Bagaimana tidak, tiba-tiba di atas panggung muncul Dewa Bujana gitaris grup band Gigi.
"Doski suka lihat Sarasvati di youtube. Kita kenal lewat sms. Saya bilang, mas kalau ngisi gitar di salah satu lagu Sarasvati gimana? Dan beliau mengisi petikan gitar di lagu ini 24 jam sudah beres," cerita Risa.
Diiringi suara gitar Dewa Bujana, tembang 'Solitude' dibawakan Risa dengan sempurna.
Usai Dewa Bujana turun panggung. Suara lonceng berdentang membuat suasana mencekam. Waktunya untuk 'Ivanna'. Suasana semakin mencekam saat seorang perempuan berpakaian putih berambut pirang, berjalan perlahan sambil membawa lilin. Latar belakang panggung juga menggambarkan sosok perempuan yang sedang berjalan di kegelapan sebuah rumah tua.
Trah Project, mengambil alih panggung saat Risa kembali meninggalkan singgasananya untuk berganti kostum. Penonton masih betah duduk di area festival maupun di tribun. Penonton antusias menanti kejutan apa lagi yang akan disuguhkan Sarasvati hingga lagu terakhir nanti.
'Gloomy Sunday' nomor hit Sarasvati yang berkolaborasi dengan Trah Project adalah lagu pertama di sesi terakhir. Menyusul kemudian tembang 'Danur' dari album 'Story of Peter'.
Sebelum 'Danur' dinyanyikan, sosok Arina vokalis band Mocca tiba-tiba muncul dalam video yang ditayangkan di layar panggung. "Mohon maaf tidak bisa hadir di Nishkala Sarasvati untuk menyanyikan lagu Danur, tapi siapapun yang akan menyanyikannya nanti, semoga sukses. Sampai bertemu lagi," ujar Arina.
Disela-sela Risa membawakan tembang Danur, muncul Imelda Rosalin yang juga merupakan kakak kandung Arina menemani Risa bernyanyi.-
Sesi terakhir ini bisa dibilang sesi paling romantis dan menyentuh. Bukan karena lirik-lirik cinta. Namun di sesi ini Risa banyak melibatkan orang-orang terdekat dalam kehidupannya.
"Lagu ini mengingatkan masa kecil saya. Papa saya pernah bikin lagu ini untuk saya dan adik saya. Beliau sangat cinta alam, main musik dan gitar," tutur Risa sebelum membawakan sepenggal lagu sederhana itu.
"Terimakasih Papah. Ini hal paling romantis yang saya lakuan di sini," ungkap Risa.
Meski sudah memasuki bagian terakhir, repertoar yang disuguhkan Risa tak lantas meredup. Penonton kembali dibuat terpana dengan hadirnya Mario Kahitna sebagai pasangan duet pada tembang 'Oh I Never Know'.
"Mario, aku mau pingsan," ungkap Risa usai mereka mengakhiri duetnya malam itu.
Tak lengkap rasanya jika saat konser Risa tak 'memanggil' teman-teman 'dunia lain' nya ke atas panggung. Lantas kemudian, Risa melantukan 'Boneka Abdi' dan salah satu lagu yang menurut Risa adalah lagu yang disukai Peter dan teman-temannya.
"Di antara banyak anak yang ada di dunia dan berapa jumlah ibu yang telah mengasuhnya. Banyak anak membutuhkan kasih sayang dan bimbingan...," kira-kira begitulah penggalan bait lagu tersebut.
"Saya kebingungan mencari 'mereka' dimana? Semoga mereka datang karena lagu ini," kata Risa.
Tak lama kemudian sosok anak kecil laki-laki berambut pirang muncul di atas panggung. Ya, anak kecil itu menggambarkan sosok Peter sahabat Risa dari alam lain.
'Graveyard' dipilih sebagai tembang pamungkas konser Nishkala Sarasvati malam itu. Para pemain teater yang menyerupai hantu-hantu Belanda yang sebelumnya duduk di antara penonton di tribun berjalan ke atas panggung melewati penonton yang duduk di area festival.
Nishkala memang mewakili berbagai unsur musik yang memberikan pengaruh terhadap musik Sarasvati. Nafas musik khas Sunda, pengaruh musik elektronik, dan kecintaan Risa terhafap lagu-lagu dengan warna pop unconventional menghadirkan nuansa musik yang agung malam itu.
Konser yang sekaligus melaunching album 'Mirror' dan buku 'Maddah' ini menjadi sebuah sajian musik yang tidak mengenal ruang, waktu, dan aturan tertentu.
Malam itu, panggung sederhana bernuansa hitam, serta teman-teman Risa yang tak berwujud, ikut menikmati konser kaya ekspresi ini. Sukses Sarasvati!
(/)










































