Selama ini di pemberitaan berbagai media disebutkan jika Noorman lah yang memegang kendali pesawat. Toni sebagai co-pilot.
"Dilihat dari lokasi duduknya, Pak Toni lah yang menjadi pilot. Lagipula Pak Noorman tidak punya kualifikasi aerobatik, jadi tidak mungkin dia menjadi pilot saat berakrobat," ujar Tos saat berbincang dengan detikbandung melalui telepon, Kamis (1/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tos menduga mencuatnya kabar jika Noorman menjadi pilot pada insiden itu karena melihat flight plan. "Tidak melulu apa yang tertulis di flight plan, itu memang iya. Misal di flight plan ditulis VIP in command pak Noorman, tapi pilotnya belum tentu dia," terang Tos.
Saat disinggung apakah Toni mempunyai kualifikasi aerobatik, Tos mengatakan sekitar 15 tahun lalu Toni memang merupakan instruktur pesawat jenis bravo. "Memang punya pengalaman. Tapi problemnya sudah lama tidak menerbangkan pesawat itu," katanya.
Menurut Tos, sebelum seorang pilot aerobatik terbang, harus benar-benar ketat prosedurnya. "Kalau sudah lama tidak pernah menerbangkan pesawat, harus ada latihan dulu secara rutin sebelumnya dan juga riset," katanya.
Sementara mengenai penyebab pasti jatuhnya pesawat, Tos mengaku tidak mengetahuinya. Ia yang juga tergabung dalam KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi), mengaku tidak dilibatkan dalam penyelidikan kecelakaan yang menewaskan dua awaknya tersebut.
"Itu kan registrasinya pentagon segilima, jadi yuris prudentia legalnya ada di TNI AU. Dan selama ini belum ada komunikasi ataupun koordinasi. Tapi memang biasanya kalau di bawah TNI, tidak suka ada koordinasi," katanya.
Menurutnya Noorman merupakan anggota dari Aero Club Aviatara. Sementara Toni hanya merupakan pilot tamu.
Insiden kecelakaan pesawat itu terjadi sekitar pukul 11.42 WIB, Sabtu (29/9/2012). Sebuah pesawat jenis Bravo AS 202 bernomor registrasi LM 2003 milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) jatuh di luar Lanud Husein Sastranegara. Marsekal Purn Norman T Lubis, dan Kopilot Letkol Purn Toni Hartono, tewas di lokasi kejadian.
Norman sehari-hari bekerja sebagai dokter spesialis mata di Bandung Eye Center, sementara Toni adalah instruktur di Bandung Pilot Academy.
(ern/ern)











































