"Ada keanehan saat induknya mau melahirkan pertama kali. Kepalanya dibentur-benturkan ke tiang hingga muka dan tanduknya berdarah. Malam itu sekitar jam delapan, induk bernama Denok itu akhirnya melahirkan domba jantan yang saya kasih nama Wisnu. Waktu itu saat Gunung Merapi meletus dan Mbah Maridjan (kuncen Merapi) meninggal," kata Runjana (48), pemilik domba unik itu.
Runjana mengungkapkannya saat ditemui detikbandung di rumahnya, Jalan Situ Sipatahunan No.352, RT 4 RW 4 Kampung Baleendah, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin (1/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bapaknya Wisnu itu bernama Mawar. Nah, di betis kaki kanan belakang Mawar terdapat satu kuku yang menyembul. Aneh," ucap pria yang sejak kecil gemar merawat domba adu.
Semenjak domba berusia 2 tahun itu memiliki keunikan pada bagian tubuh sebelah kiri berupa karakter alur kulit membentuk lafaz Allah, pemilik memperlakukannya secara istimewa.
"Kalau mandi, Wisnu diguyur air hangat. Makannya singkong. Nah, kalau arti nama Wisnu yakni jujur," ucap Runjana yang memilihara sejumlah domba adu di perkarangan belakang rumahnya.
Pria ini menyebutkan, Wisnu tak seperti domba peliharaannya yang lain. "Dia penurut. Kalau saya lepas, selalu mengikuti dari belakang. Saya berhenti, ikut berhenti. Ya, seperti memelihara kucing dan anjing jinak," papar pria yang berprofesi sebagai guru olahraga di SDN Zipur Dayeuh Kolot ini.
Bulu putih menempel pada kulit tubuh domba inilah seperti terangkai mirip huruf Arab membentuk lafaz Allah. Posisinya tepat di tengah tubuh sebelah kiri domba. Alur lafaz makin terlihat jelas lantaran dikelilingi dominasi bulu hitam.
(bbn/ern)











































