Kinerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jabar dalam menangani korban trafficking atau perdagangan orang dipertanyakan. Hal itu disuarakan Forum Solidaritas Masyarakat Indonesia (FSMI) dan Forum Rakyat Garut (FRG) dalam aksi yang digelar di halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Selasa (18/9/2012).
Massa yang berjumlah sekitar 20 orang itu sebagian di antaranya terdiri dari ibu-ibu dan anak korban trafficking. Mereka merupakan warga Garut.
Mulyono Khadapi, koordinator aksi, menyebut sampai sekarang banyak korban trafficking yang tidak ditangani oleh P2TP2A. Padahal para korban itu membutuhkan pemulihan mental, pembekalan keterampilan serta berbagai hal lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengklaim, korban yang datang hari ini melakukan aksi hanya sebagian kecil dari korban trafficking yang tidak mendapat penanganan P2TP2A.
"Kalau ditotal jumlah yang tidak mendapat penanganan (P2TP2A) ini lebih dari 500 orang se-Jabar," jelas Mulyono.
Aksi kali ini merupakan yang kedua. Sebelumnya sekitar 2,5 bulan lalu, massa juga sempat melakukan aksi serupa. "Tapi sampai sekarang tidak ada jawaban atau penanganan bagi para korban trafficking ini," cetusnya.
Sementara dalam aksinya, massa membawa sejumlah poster bertuliskan 'Jangan Jadikan Jabar Jadi Surga Bagi Pelaku Traffcking', 'Mana? P2TP2A Jabar', dan 'Lindungi Anak di Bawah Umur. Jangan Biarkan Diekploitasi Terus'.
(orb/ern)










































