Dua ribu siswa SMA yang mewakili remaja se-Jabar menegaskan komitmen menolak human trafficking atau perdagangan manusia. Dengan tegas, mereka mengucapkan 'we are not for sale' secara serempak.
Itu terjadi ketika Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumilar, mengajak para siswa melontarkan 'We Are Not For Sale' dalam sosialisasi anti perdagangan manusia yang digelar di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jumat (31/8/2012).
"Ayo semuanya," ajak Linda. "We are not for sale. We are not for sale. We are not for sale," teriak para siswa yang langsung disambung dengan tepuk tangan meriah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan ia menantang remaja Jabar menjadi pelopor penentang human trafficking. "Anak-anak Jabar harus jadi pelopor dibanding anak-anak di provinsi lain," cetusnya.
"Ibu harap ini bukan hanya janji kalian di sini. Tapi coba renungkan, rumuskan, implementasikan, buktikan anak Jabar adalah anak yang luar biasa," tutur Linda.
Sementara dalam sambutannya, Linda menjelaskan seputar berbahayanya human trafficking yang seperti gunung es. Ia kemudian menyebut data yang dirilis Dit Tipidum Bareskrim Polri per 17 Januari 2012.
"Dalam kurun 2009-2011 terjadi 373 kasus dengan korban dewasa 440 orang dan korban anak-anak 192 orang serta menjerat 450 pelaku yang 134 perkara di antaranya sudah masuk ke persidangan," papar Linda.
Mereka yang jadi korban di antaranya dipaksa bekerja sebagai pelayan cafe, salon, karaoke dan panti pijat. Selain menjadi pekerja seks, para korban juga ada yang bekerja tanpa dibayar bahkan disiksa secara fisik dan psikis.
Perceraian, menurutnya bisa jadi salah satu pemicu perdagangan manusia apalagi jika terhimpit keadaan ekonomi yang sulit.
"Teruslah sekolah, teruslah belajar, jangan buru-buru menikah," pinta Linda yang kembali disambut tepuk tangan para pelajar. (orb/ern)










































