Kisah Para Pemudik di Stasiun Kiaracondong

Kisah Para Pemudik di Stasiun Kiaracondong

Djuli Pamungkas - detikNews
Kamis, 16 Agu 2012 15:22 WIB
Kisah Para Pemudik di Stasiun Kiaracondong
Bandung -

Rahmadi (33), hanya bisa mengelus dada melihat ribuan orang naik kereta untuk mudik ke kampung halamannya. Keinginannya merayakan hari raya bersama keluarga tercintanya di Surabaya terpaksa dikubur dalam-dalam. Rahmadi kehabisan tiket kereta untuk keberangkatan sebelum lebaran.

Akhirnya ia terpaksa membeli tiket untuk keberangkatan beberapa hari setelah hari raya. "Saya tidak tahu jika sekarang tidak bisa hari ini beli, hari ini berangkat," ujarnya ditemui di sela-sela antrean pembelian tiket di Stasiun Kiara Condong, Kamis (16/8/2012).

Rahmadi tidak mengetahui adanya kebijakan yang menjual tiket pada 90 hari sebelum pemberangkatan. "Katanya untuk menghindari jumlah penumpang yang tidak sesuai dengan kapasitas kereta," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmadi yang menetap di Lembang ini terpaksa membeli tiket H+5 Lebaran. Daripada enggak mudik mending saya beli yang setelah lebaran saja," ujar Rahmadi.

Rahmadi sempat akan membeli tiket ke calo yang biasa berkeliaran di sekitar Stasiun Kiara Condong, namun niatnya itu diurungkan. "Tadi sempet mau beli ke calo, tapi untung enggak jadi soalnya lihat ibu-ibu enggak bisa masuk kereta gara-gara KTP-nya beda sama fotokopi KTP yang ditunjukin pas beli tiket, ibu-ibu yang tadi beli tiketnya ke calo, kasian juga sih," ujar Rahmadi.

Sementara itu Amung (42), warga asal Cicadas, sedikit beruntung. Keluarganya bisa merayakan hari pertama lebaran di kampung halaman di Cilacap, Jateng. Namun ia tak ikut karena harus masuk kerja pada hari H.

"Pas hari H lebaran, saya masih kerja, kepaksa istri sama anak harus mudik duluan, daripada bareng sama saya nanti, kasian mereka kan pasti pingin bareng sama keluarga di kampung," ujar Amung.

Amung yang bekerja sebagai satpam di sebuah pusat perbelanjaan di Bandung ini mengaku akan mudik menggunakan sepeda motor untuk menyusul istri dan anaknya. "Tadinya anak rewel, pengen bareng sama bapaknya, tapi saya kasian kalau anak sama istri mesti mudik pake motor, kebayang capeknya," ujar Amung.

Amung mengaku telah mengetahui jika ia harus membeli tiket 90 hari sebelum pemberangkatan. "Saya dulu beli bulan Juli. Katanya biar dapet tempat duduk. Nah, sekarang langsung beli buat tiket pulang ke Bandung lagi, biar tetep kebagian tiket," tutup Amung.

(ern/ern)


Berita Terkait