"Harusnya 43 kali kemoterapi, sekarang baru 14 kali," ucap Zulaeha Zubaidi, orangtua Mafazi, saat ditemui di RSHS, Jalan Pasteur, Jumat (27/7/2012).
Meski mendapat keringanan untuk biaya berobat di RSHS karena memiliki kartu Gakinda, ia tetap harus merogoh kocek sendiri. "Enggak semua gratis, ada yang harus pakai duit sendiri," katanya.
Untuk kemoterapi misalnya, dalam sebulan sekali ia harus merogoh kocek sendiri untuk biaya kemoterapi. Sementara seminggu sekali, Mafazi harus menjalani kemoterapi namun gratis karena terfasilitasi kartu Gakinda.
Selain kemoterapi, ia juga harus membeli berbagai obat untuk keperluan anaknya. "Ada yang satu obat misalnya harga per tabletnya Rp 580 ribu, itu pakai duit sendiri," tuturnya.
Total, ia harus mengeluarkan uang lebih dari Rp 30 juta untuk biaya perawatan dan keperluan Mafazi selama bolak balik setahun ke RSHS. Dan untuk beberapa waktu ke depan, ia harus tetap bolak-balik ke RSHS demi kesembuhan anaknya. "Kalau buat anak mah, apapun diusahain," tegas Eha.
Setelah 14 kali menjalani kemoterapi, kanker Mafazi makin lama makin mengecil. Meski hingga kini, bagian lehernya masih harus diperban karena belum sembuh benar.
"Setelah kemoterapi, kankernya terus mengecil. Mudah-mudahan cepat sembuh," harap Eha.
(orb/ern)











































