"Ini namanya error tingkat tiga. Pertanyaannya apa, dijawab dengan yang lain. Orang haus malah dikasih nasi. Ya enggak nyambung," ujar Planolog ITB Denny Zulkaidi saat dihubungi detikbandung melalui telepon, Rabu (25/7/2012).
Menurutnya keinginan wilayah Cirebon dan sekitarnya yang ingin memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat tidak bisa dijawab dengan pemindahan ibukota Jabar dari Bandung ke Cirebon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Denny persoalan keinginan Cirebon dan sekitarnya ingin memisahkan diri harus dicari tahu penyebabnya. "Apa mereka merasa kurang diperhatikan? Itu yang dicari jalan keluarnya," tandasnya.
Posisi Cirebon yang berada di pinggir Jabar, Kata Denny, tidak menguntungkan bagi daerah lainnya jika Cirebon jadi ibukota. "Yang enak cuma Cirebon, bagi daerah lain tidak ada nilai plusnya," ujarnya.
"Apalagi setahu saya tidak ada sejarahnya pemerintahan Jawa Barat diatur dari Cirebon. Jadi wacana ini ahistoris. Sudah tidak perlu dibahas," tegasnya.
Soal Kota Bandung sudah semrawut dan tidak layak lagi jadi ibukota, Denny pun tidak sepakat. "Loh yang bikin Bandung semrawut itu bukan kantor pemerintahan, tapi bisnis. Apa jika pindah ibukota, Bandung jadi tidak semrawut? Ya tetap semrawut. FO bertambah, angkot ngetem. Itu yang bikin semrawut, bukan pemerintahan," tegasnya.
Sebelumnya Anggota Komisi A DPRD Jabar Deden Darmansyah mewacanakan ibukota Jawa Barat pindah ke Cirebon. Alasannya Bandung sudah semrawut dan untuk meredam keinginan Cirebon dan sekitarnya memisahkan diri dari Jabar.
(ern/ern)










































