Jelang mogok massal produsen tahu tempe di wilayah Kota Bandung, sejumlah pengelola pabrik masih berkesempatan memproduksi tahu. Mereka pun menghabiskan stok kedelai yang menumpuk di gudang pabrik daripada terbuang mubazir.
"Besok kan mulai mogok. Enggak ada yang produksi tahu. Jadi sekarang hanya produksi karena menghabiskan stok kedelai saja," ujar Lilis Sarifah (33), salah satu pemilik pabrik tahu di kawasan Cibuntu, Gang Lebe, RT 3 RW 4, Kelurahan Warung Muncang, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung.
Ia menuturkannya kepada wartawan di lokasi pabrik, Selasa (24/7/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mogok tiga hari. Itu tertuang dalam surat edarang kepada para perodusen tahu dan tempe. Saya juga dapat surat edarannya," jelas Lilis sambil memperlihatkan beberapa lembar kertas berisi surat edaran dari Puskopti Jabar.
Senada diungkapkan produsen tahu di kawasan Cibuntu lainnya, Ule Sulaeman (60). "Mogok itu gara-gara harga bahan baku berupa kedelai makin mahal," jelas Ule ditemui di pabriknya.
Menurut Ule, harga kedelai hingga kini masih Rp 8 ribu. Kondisi tersebut menjadi beban berat produsen. Misalnya, produsen per harinya mencetak tahu yang membutuhkan 2,5 kuintal kedelai, sudah hampir sepekan ini menurunkan produksi menjadi 1 kuintal kedelai. "Jelas dong merugi," kata Ule.
Terpaan kerugian juga disampaikan Lilis. "Contohnya gini, sebelas kilogram kedelai itu bisa memproduksi 500 tahu. Saya jual Rp 3.500 per 10 tahu. Kalau biasanya lebih dua kilo kedelai, sekarang malah turun, berarti kan merugi," tutur Lilis.
(bbp/ern)










































