Namun berbeda dengan Heri (42), dari bulir-bulir cendol itulah setiap hari ia berharap rejeki agar dapur tetap ngebul. Ditemui di ruas Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Heri sibuk melayani pembeli yang membeli takjil untuk berbuka nanti.
Heri berjualan cendol Elizabeth sejak tahun 1995. Heri bukan pedagang musiman yang hanya berjualan setiap bulan ramadan saja. Ia setiap hari mengais rejeki dari cendol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diakui Heri, penghasilannya saat bulan Ramadan lebih tinggi dibanding hari biasanya. Dalam sehari, puluhan bungkus dan gelas cendolnya laris terjual.
"Lakunya enggak tentu, kadang ramai kadang sepi. Tapi dibandingkan jualan sehari-hari, jualan di bulan puasa lebih ramai," tuturnya.
Heri membanderol sebungkus cendolnya Rp 14 ribu. Heri mengatakan, tiap tahun harga cendol merangkak naik.
"Dulu pertama jual sebungkus Rp 5.000, tapi makin kesini, harga bahan baku juga makin naik, jadi disesuaikan," ujarnya.
Selain Heri, banyak pedagang cendol lainnya yang mangkal di sekitar Pasar Baru. Rata-rata mereka pedagang musiman.
(avi/ern)











































