"Kita menargetkan Palestina merdeka pada 2015. Itu bentuknya usulan dari peserta konferensi, bukan keputusan konferensi," ujar Chairman Aqsa Working Group Agus Sudarmaji saat ditemui di lokasi, Kamis (5/7/2012).
Dalam tiga tahun ke depan, sambung dia, jelas harus ada upaya untuk memerdekakan Palestina. "Artinya kita berusaha mengakselerasi atau melakukan berbagai kegiatan untuk percepatan kemerdekaan Palestina," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus mengatakan, ada beberapa hal yang jadi pertimbangan kenapa para peserta konferensi menargetkan Palestina merdeka pada 2015. Hal paling utama adalah karena Palestina belum siap untuk merdeka.
"Dari dalam negeri (Palestina) tidak ada persiapan untuk merdeka. Mereka cuma ingin merdeka tapi tidak menggarap keinginan itu jadi sebuah planning yang digarap dengan serius," jelasnya.
Selain itu, Palestina dianggap tidak punya sosok pemimpin yang kuat pasca meninggalnya Yasser Arafat. "Mereka juga tidak siap secara syar'i, maksudnya tidak ada persiapan yang mereka lakukan dengan serius, masyarakat Palestina juga masih terpecah belah," tuturnya.
Agus pun membandingkan kondisi tersebut yang berbeda dengan Indonesia saat masa penjajahan. Saat itu, rakyat Indonesia bersatu padu. Dengan semangat tinggi untuk melawan penjajahan, bangsa Indonesia mampu melawan penjajah dengan bermodalkan senjata seadanya.
Hal itu berbeda dengan Palestina. "Kalau kita beri mereka senjata untuk melawan penjajahan, belum tentu juga mereka merdeka," tuturnya.
Dan ke depan, pihaknya akan memperkuat kerjasama dengan berbagai pihak dan negara yang mendukung Palestina merdeka. Selain itu, akan diupayakan berbagai usaha agar rakyat Palestina bersatu dan memiliki pandangan samauntuk melawan penjajahan.
(orb/ern)











































