"Tidak ada unsur kelalaian. Barangkali ini hanya masalah miskomunikasi," kata Direktur Umum dan Operasional RSHS Edi Sampurno saat ditemui di DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Senin (25/6/2012).
Menurutnya, Ayoh perlu menempuh berbagai proses medis sebelum dilakukan operasi. Sehingga meski sudah 19 kali bolak-balik Subang-Bandung (RSHS - red), pihak RSHS belum memutuskan kapan Ayoh harus dioperasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, RSHS sebenarnya sudah meminta Ayoh untuk datang kembali ke RSHS. Namun Ayoh tidak datang dan diketahui sudah meninggal.
Namun Edi mengaku lupa kapan Ayoh diminta datang lagi ke RSH. "Ada datanya, nanti kami sampaikan. Yang jelas ada kronologinya di mana Bu Ayoh diminta lagi datang ke RSHS untuk berobat lebih lanjut," paparnya.
Edi menambahkan, RSHS menganut prinsip tidak membedak-bedakan pasien miskin atau kaya. Dan dengan adanya aksi dari LSM Peduli Rakyat Miskin itu tetap jadi bahan evaluasi bagi RSHS.
"Ini merupakan masukan bagi RSHS untuk bekerja lebih keras lagi, lebih baik lagi untuk melayani masyarakat," tandas Edi.
Sebelumnya puluhan orang dari LSM Peduli Rakyat Miskin melakukan aksi demo di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Senin (25/6/2012). Mereka mengeluhkan pelayanan RSHS yang dinilai buruk. Contohnya saat melayani Ayoh.
Ayoh merupakan pasien rawat jalan RSHS yang menggunakan fasilitas jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Ayoh mengidap suspek tumor ganas ovarium pada bagian perut sejak 2007. Akibat penyakitnya itu, perut Ayoh membesar hingga berat perutnya diperkirakan mencapai 20 kilogram. Ayoh sendiri meninggal di RS Ciereng.
Massa menilai meninggalnya Ayoh diduga akibat lambannya penanganan medis oleh RSHS. Dua bulan berobat atau sudah 19 kali bolak-balik Subang-Bandung, tapi tidak ada kejelasan dari RSHS kapan Ayoh dioperasi
(orb/ern)










































